Rasulullah SAW Pernah Lupa Ayat Al-Qur’an? Apa Iya?
Apakah benar Rasulullah SAW pernah lupa ayat Al-Qur'an? Jika benar, apakah tidak berpengaruh terhadap pembentukan sayriat? Simak jawabannya melalui konsultasi berikut!
Assalamu'aaikum Wr. Wb.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca pertanyaan saya. Semoga Ustaz berkenan memberikan pencerahan dan bimbingan kepada saya.
Beberapa waktu lalu, saya terlibat dalam sebuah diskusi dengan teman saya mengenai kemaksuman Rasulullah SAW. Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah SAW adalah satu-satunya manusia yang ma’shum (terjaga dan terlindungi dari kelalaian), termasuk dalam hal menjaga hafalan dan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Quran.
Namun, dalam diskusi tersebut, teman saya berpendapat bahwa Rasulullah pernah lupa terhadap ayat Al-Quran. Saya merasa kesulitan menerima pendapat itu. Dalam pemahaman saya, jika Rasulullah sampai lupa suatu ayat, ini akan menjadi masalah besar, mengingat beliau adalah pembawa wahyu yang harus menyampaikannya dengan sempurna. Selain itu, bagaimana mungkin hal itu terjadi, padahal Allah telah menjamin bahwa Rasulullah akan hafal dan memahami wahyu-Nya tanpa kesulitan? Saya teringat sebuah peristiwa ketika Rasulullah ditegur karena terburu-buru membaca ayat yang belum selesai dibacakan oleh Jibril AS, yang seharusnya menjadi petunjuk bagi beliau. Namun, saya lupa ayat dan suratnya, Ustaz.
Dengan rendah hati, saya memohon bimbingan Ustaz untuk menjelaskan hal ini. Semoga penjelasan Ustaz dapat memberi ketenangan dan menghilangkan kegundahan mengenai pendapat teman saya tersebut.
Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada kita semua. Aamiin.
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Semua ulama sepakat bahwa Rasulullah SAW adalah ma’sum, termasuk masalah hafalan Al-Qur’an yang melekat kepada beliau. Namun yang perlu kita sadari juga bahwa beliau SAW juga manusia biasa yang tentunya memiliki sifat lupa. Kelupaan makhluk terhadap sesuatu merupakah sunnatullah yang tidak bisa dielakkan.
Al-Qur’an Surat Al-A’la ayat 6 dan 7 juga mengingtakan kita bahwa Allah menjamin bahwa Rasulullah tidak akan lupa satu ayat Al-Quran sekalipun, kecuali jika Allah berkehendak. Berikut kita simak ayat tersebut dan kita coba membahasnya secara perlahan.
Ayat 6:
سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ ﴿٦﴾
“Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa.”
Ayat 7:
إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ إِنَّهُۥ يَعْلَمُ ٱلْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ ﴿٧﴾
“Kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”
Untuk memahami dua ayat di atas, ada baiknya kita akses salah satu tafsir bir riwayah, dalam hal ini tafsir Al-Imam Al-Bghawi As-Syafii Rahimahullah:
( سنقرئك ) سنعلمك بقراءة جبريل [ عليك ] ( فلا تنسى إلا ما شاء الله ) أن تنساه ، وما نسخ الله تلاوته من القرآن ، كما قال : " ما ننسخ من آية أو ننسها " ( البقرة - 106 ) والإنساء نوع من النسخ .
وقال مجاهد ، والكلبي : كان النبي - صلى الله عليه وسلم - إذا نزل عليه جبريل - عليه السلام - ، لم يفرغ من آخر الآية حتى يتكلم رسول الله - صلى الله عليه وسلم - بأولها ، مخافة أن ينساها ، فأنزل الله تعالى : " سنقرئك فلا تنسى " [ فلم ينس بعد ] ذلك شيئا . ( إنه يعلم الجهر ) من القول والفعل ( وما يخفى ) منهما ، والمعنى : أنه يعلم السر والعلانية.[1]
" Kami akan membacakan kepadamu" yaitu kami akan mengajarkan kepadamu bacaan seperti yang dibacakan oleh Jibril [kepadamu]. "فلا تنسى إلا ما شاء الله" Maka kamu tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki agar kamu lupa, dan apa yang Allah hapuskan (mansukh) dari bacaan Al-Qur'an, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: "Apa yang Kami hapuskan dari suatu ayat atau Kami lupakan" (QS. Al-Baqarah: 106), dan perbuatan membuat lupa adalah salah satu bentuk penghapusan."
"Imam Mujahid dan Al-Kalbi mengatakan: "Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Jibril AS, di saat beliau belum selesai memperdengarkan ayat yang terakhir, namun Rasulullah SAW langsung mengucapkan ayat pertama karena khawatir beliau akan lupa. Maka Allah menurunkan ayat: 'Kami akan membacakan kepadamu, maka kamu tidak akan lupa' dan setelah itu Rasulullah SAW tidak pernah lupa lagi."
"Sesungguhnya Dia mengetahui segala yang tampak, baik berupa perkataan maupun perbuatan. "(وما يخفى) dan Dia juga mengetahui apa yang tersembunyi dari keduanya." Maksudnya adalah bahwa Allah mengetahui baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik itu dalam perkataan maupun perbuatan."
Dengan menyimak penjelasan dari Al-Imam Al-Baghawi diatas, maka ada dua poin yang beliau garis bawahi, yaitu:
- Rasulullah SAW mendapat jaminan tidak akan pernah lupa terhadap satu ayat pun.
- Biar bagaimanapun, Allah adalah Tuhan Yang Maha Berkehendak (Al-Murid), dan kehendak-Nya tidak bisa dibatasi oleh siapa pun, termasuk dalam hal Allah berkehendak untuk mengondisikan Rasulullah SAW lupa terhadap suatu ayat. Kehendak Allah ini benar-benar terjadi, di mana Allah menghapus (menasakh) ayat yang telah turun dan menggantinya dengan ayat yang baru. Proses naskh ini merupakan bagian dari kehendak Allah untuk menjadikan Rasulullah lupa terhadap ayat yang telah dihapus tersebut. Namun, pembahasan lebih mendalam mengenai bab nasikh dan mansukh memerlukan ruang tersendiri, yang tidak memungkinkan untuk dibahas secara detail dalam tulisan ini karena keterbatasan waktu.
Jika Al-Imam Al-Baghawi seakan mengkhususkan bahwa lupanya Rasulullah SAW hanya berlaku pada ayat mansukh (ayat yang dihapus tilawahnya dan tidak ada dalam mushaf), hal ini tentunya masih menyisakan pertanyaan lanjutan. Salah satunya adalah:
Apakah Rasulullah SAW benar-benar pernah lupa terhadap suatu ayat yang tidak dimansukh? Jawabannya adalah benar!
Berikut hadisnya:
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَقْرَأُ فِي سُورَةٍ بِاللَّيْلِ فَقَالَ " يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا "
“Dari Aisyah, ia berkata: "Rasulullah (ﷺ) mendengar seorang lelaki membaca Al-Qur'an di malam hari, dan berkata, 'Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya, karena dia telah mengingatkan saya tentang ayat-ayat tertentu dari surah-surah tertentu yang saya telah dilupakan.” (HR. Al-Bukhari).
Jika melihat hadis di atas secara tekstual, dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW memang pernah lupa ayat Al-Qur’an, dan hal ini tentu kembali pada ayat 7 surat Al-A'la yang menunjukkan bahwa hal itu termasuk dalam kehendak Allah.
Di sini mungkin timbul kekhawatiran, yaitu apakah lupa yang dialami Rasulullah SAW bisa menimbulkan persepsi bahwa ada ayat yang belum disampaikan kepada umatnya hingga saat ini? Jika hal tersebut terjadi, tentu berpotensi menimbulkan anggapan bahwa syariat atau hukum belum sempurna, karena Rasulullah lupa satu atau beberapa ayat yang beliau sampaikan.
Oleh karena itu, meskipun hadis tersebut sahih, pemahaman yang benar sangat diperlukan agar tidak timbul persepsi yang keliru tentang Rasulullah SAW.
Sebagai penjelasan lebih lanjut, kita dapat merujuk pada kitab Fath Al-Bari' karya Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalani Rahimahullah Ta'ala.
قال الإسماعيلي : النسيان من النبي - صلى الله عليه وسلم - لشيء من القرآن يكون على قسمين : أحدهما : نسيانه الذي يتذكره عن قرب ، وذلك قائم بالطباع البشرية ، وعليه يدل قوله - صلى الله عليه وسلم - في حديث ابن مسعود في السهو إنما أنا بشر مثلكم أنسى كما تنسون.[2]
“Imam al-Isma'ili berkata: "Lupa yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW terhadap suatu ayat Al-Qur'an dibagi menjadi dua macam. Pertama, lupa yang kemudian diingat kembali dalam waktu dekat, ini merupakan bagian dari sifat alami manusia. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas'ud tentang kelalaian, 'Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian, aku bisa lupa sebagaimana kalian lupa.”
والثاني : أن يرفعه الله عن قلبه على إرادة نسخ تلاوته ، وهو المشار إليه بالاستثناء في قوله تعالى : سنقرئك فلا تنسى إلا ما شاء الله قال : فأما القسم الأول فعارض سريع الزوال لظاهر قوله تعالى : إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون وأما الثاني فداخل في قوله تعالى : ما ننسخ من آية أو ننسها على قراءة من قرأ بضم أوله من غير همزة.
“Kedua, yaitu ketika Allah mengangkatnya dari hati Nabi dengan tujuan untuk menghapus bacaan ayat tersebut. Hal ini yang dimaksud dengan pengecualian dalam firman-Nya: "Kami akan membacakan kepadamu (wahyu), maka janganlah kamu lupa, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah" (QS. Al-A'la: 6). Beliau (al-Isma'ili) berkata: "Adapun bagian pertama, itu adalah sesuatu yang datang dengan cepat dan akan hilang, sesuai dengan firman Allah: 'Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur'an dan Kami pula yang memeliharanya.' Adapun bagian kedua, termasuk dalam firman Allah: 'Apa yang Kami hapuskan dari suatu ayat atau Kami lupakan' sesuai dengan bacaan yang menyebutkan 'nansa' tanpa menggunakan huruf hamzah di awalnya."
Menurut Al-Ismaily, ada dua jenis lupa yang dialami oleh Nabi terkait suatu ayat, yang dianggap wajar selama lupa tersebut tidak berlangsung lama dan Nabi segera mengingatnya kembali. Lupa semacam ini mencerminkan sisi kemanusiaan Rasulullah SAW, yang tidak berbeda dengan manusia pada umumnya.
Mengenai penjelasan atau komentar Al-Ismaily tersebut, Al-Imam Ibnu Hajar memperjelasnya lebih lanjut, sebagai berikut:
قلت : وقد تقدم توجيه هذه القراءة وبيان من قرأ بها في تفسير البقرة . وفي الحديث حجة لمن أجاز النسيان على النبي - صلى الله عليه وسلم - فيما ليس طريقه البلاغ مطلقا ، وكذا فيما طريقه البلاغ لكن بشرطين : أحدهما أنه بعد ما يقع منه تبليغه ، والآخر أنه لا يستمر على نسيانه بل يحصل له تذكره إما بنفسه وإما بغيره . وهل يشترط في هذا الفور ؟ قولان ، فأما قبل تبليغه فلا يجوز عليه فيه النسيان أصلا . وزعم بعض الأصوليين وبعض الصوفية أنه لا يقع منه نسيان أصلا وإنما يقع منه صورته ليسن ، قال عياض : لم يقل به من الأصوليين أحد إلا أبا المظفر الإسفراييني ، وهو قول ضعيف.
"Saya katakan: "Telah dijelaskan sebelumnya tentang cara bacaan ini dan siapa saja yang membacanya dalam tafsir Surah Al-Baqarah. Dalam hadits ini terdapat argumen bagi mereka yang membolehkan Nabi Muhammad SAW lupa dalam hal yang bukan termasuk penyampaian wahyu secara mutlak, demikian juga dalam hal yang berkaitan dengan penyampaian wahyu dengan dua syarat: pertama, bahwa lupa itu terjadi setelah wahyu disampaikan, dan kedua, bahwa lupa itu tidak berlangsung lama, karena ia akan ingat kembali, baik dengan sendirinya atau dengan bantuan orang lain. Apakah dalam hal ini harus segera ingat? Ada dua pendapat. Adapun sebelum wahyu disampaikan, maka tidak boleh terjadi lupa. Beberapa ahli ushul fiqh dan sebagian sufi berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mungkin lupa sama sekali, yang ada hanya gambaran lupa, agar dapat dijadikan pelajaran. Namun, menurut Iyadh, tidak ada seorang pun dari ahli ushul fiqh yang mengungkapkan hal ini kecuali Abu al-Muzafar al-Isfara'ini, dan pendapat ini dianggap lemah."
Komentar Ibn Hajar menitik beratkan poin-poin berikut:
- Dalam konteks Nabi SAW sebagai penyampai wahyu, lupa terhadap suatu ayat yang belum disampaikan kepada umat tentu tidak akan terjadi.
- Adapun lupa yang terjadi setelah wahyu tersampaikan, tentu tidak menjadi masalah dan tidak berpengaruh terhadap syariat. Bahkan, meskipun lupa tersebut terjadi lebih dari sekali atau berkali-kali, hal itu tetap tidak mempengaruhi syariat, karena syariat sudah terbentuk meskipun lupa tersebut benar-benar terjadi.
- Sekalipun Nabi SAW lupa, lupanya tersebut tidak berlangsung lama. Ayat yang terlupa tersebut bisa saja kembali teringat atau bahkan diingatkan oleh orang lain.
Dengan demikian, kekhawatiran mengenai lupa Nabi SAW terhadap suatu ayat yang berpotensi mempengaruhi syariat, terutama kekhawatiran bahwa ada satu atau dua ayat yang tertinggal atau belum tersampaikan kepada umat, tentu tidak akan terjadi.
Selain itu, kita juga ingat bahwa setiap malam bulan Ramadan, Jibril dan Rasulullah SAW selalu memeriksa hafalan beliau terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang telah diturunkan atau disampaikan. Dengan cara ini, mustahil bagi Rasulullah SAW untuk lupa terhadap suatu ayat, apalagi sampai ada ayat yang terlupa dan tidak tersampaikan.
___________
Foto : Magnific
[1] Al-Husain Ibn Mas’ud Al-Baghawi, Ma’alim At-Tanzil, Dar Thayba, Riyadh, 1409 H, Juz 8, Hal. 401.
[2] https://www.islamweb.net/ar/library/content/52/9208/ diakses 6 Mei 2026 pukul 22.00 WIB