Menyikapi Isu Megathrust

Isu megathrust Selat Sunda tentu meresahkan sebagian masyarakat, terutama mereka yang tinggal di sekitar pesisir. lalu bagaimana sikap seorang muslim? Simak konsultasi bermanfaat berikut!

Da'i Ambassador

Assalamu'alaikum Wr Wb.


Belakangan ini masyarakat kembali ramai membicarakan informasi mengenai potensi gempa megathrust Selat Sunda setelah adanya penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi tersebut menjelaskan bahwa wilayah Selat Sunda merupakan salah satu zona yang memiliki potensi gempa besar sampai dengan 8,9 SR karena berada pada kawasan pertemuan lempeng tektonik aktif.


Dalam berbagai kajian kebencanaan, para ahli menjelaskan adanya kemungkinan skenario gempa dengan kekuatan besar pada zona megathrust tersebut. Beberapa pemodelan juga menunjukkan adanya potensi tsunami dengan tinggi gelombang yang signifikan pada wilayah pesisir yang paling dekat dengan sumber gempa. Dalam beberapa skenario terburuk, potensi tinggi tsunami dapat mencapai sekitar 20 meter pada lokasi tertentu.


Kabar tersebut tentu menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir sekitar Selat Sunda seperti sebagian wilayah Banten dan Lampung. Kekhawatiran juga muncul di wilayah perkotaan seperti Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk tinggi, banyak gedung bertingkat, serta berbagai fasilitas penting. Masyarakat mulai mempertanyakan bagaimana dampak gempa tersebut dan sejauh mana kesiapan menghadapi kemungkinan bencana.


Di tengah berbagai informasi tersebut, sebagian masyarakat mengalami rasa takut dan cemas. Lalu muncul pertanyaan:


Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi potensi bencana seperti megathrust dalam perspektif Islam, agar tetap memiliki keimanan, ketenangan, dan sikap yang benar dalam menghadapi kemungkinan tersebut?


Jawaban:


Wa'alaikumussalam Wr Wb.


Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menolak ilmu pengetahuan. Informasi ilmiah mengenai potensi gempa dan tsunami yang disampaikan oleh para ahli merupakan bagian dari usaha manusia memahami tanda-tanda alam yang Allah SWT ciptakan.


Seorang muslim tidak perlu mempertentangkan antara ilmu dan iman. Justru mempelajari alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Allah SWT memberikan manusia akal agar mampu membaca berbagai fenomena, mengambil pelajaran, dan melakukan persiapan untuk menjaga kehidupan.


 Allah SWT berfirman:


قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ.


"Katakanlah: “Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan." (QS. Al-'Ankabut: 20).


 


Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mendorong manusia untuk memperhatikan dan mempelajari alam semesta.


Karena itu, informasi mengenai potensi megathrust tidak perlu ditolak, tetapi juga tidak boleh menjadikan manusia tenggelam dalam ketakutan yang berlebihan. Rasa takut terhadap ancaman adalah sesuatu yang manusiawi. Namun dalam ajaran Islam, rasa takut tidak berhenti menjadi kecemasan, melainkan diarahkan menjadi kesadaran untuk kembali kepada Allah SWT.


Seorang muslim meyakini bahwa seluruh kejadian berada dalam ilmu dan kehendak Allah SWT.


 Allah SWT berfirman:


إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ 


"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Qamar: 49)


Keyakinan terhadap takdir tidak berarti manusia meninggalkan usaha. Allah SWT menetapkan kehidupan berjalan melalui sebab-sebab yang harus ditempuh manusia. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi bencana, mengikuti informasi terpercaya, memperkuat bangunan, memahami jalur evakuasi, dan menjaga keselamatan adalah bagian dari ikhtiar.


Namun, manusia juga perlu menyadari bahwa kemampuan manusia memiliki batas. Di sinilah doa, istighfar, dan taubat menjadi bagian penting dari sikap seorang muslim.


Ketika manusia mendengar adanya ancaman besar seperti potensi bencana, rasa takut adalah sesuatu yang wajar. Akan tetapi, seorang muslim tidak berhenti pada rasa takut. Ketakutan tersebut harus diolah menjadi kesadaran, harapan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Ancaman yang diberitakan melalui kajian ilmiah seharusnya menjadi momentum bagi manusia untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, memperbanyak doa, dan memohon rahmat Allah SWT.


Dalam sejarah umat terdahulu, Al-Qur'an memberikan contoh bahwa ketika manusia menghadapi ancaman, jalan yang ditempuh bukan hanya rasa takut, tetapi kembali kepada Allah SWT dengan iman dan taubat.


Salah satu contoh yang sangat jelas adalah kisah kaum Nabi Yunus AS.


Nabi Yunus AS diutus kepada penduduk Ninawa untuk mengajak mereka beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan kesesatan. Pada awalnya mereka menolak seruan tersebut dan tetap berada dalam kesalahan. Ketika Nabi Yunus meninggalkan mereka, Allah SWT memperlihatkan tanda-tanda datangnya azab.


Ketika melihat tanda-tanda tersebut, kaum Nabi Yunus tidak memilih kesombongan. Mereka menyadari kesalahan mereka, beriman kepada Allah SWT, dan bertaubat dengan sungguh-sungguh. Mereka memohon ampun dan kembali kepada Allah SWT dengan penuh ketundukan.


Karena keimanan dan taubat mereka, Allah SWT memberikan rahmat-Nya dan mengangkat azab yang sebelumnya akan menimpa mereka.


Allah SWT berfirman:


فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ.


"Maka mengapa tidak ada suatu negeri yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat baginya selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri mereka kesenangan sampai waktu tertentu." (QS. Yunus: 98).


Ayat ini memberikan pelajaran bahwa perubahan manusia melalui iman dan taubat dapat menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT. Kisah kaum Nabi Yunus AS menunjukkan bahwa ketika manusia menghadapi ancaman, respons yang tepat bukan hanya rasa takut, tetapi kembali kepada Allah SWT dengan penuh harapan.


Tentu seorang muslim tidak dapat memastikan bahwa suatu bencana pasti tidak terjadi hanya karena doa dan taubat. Semua keputusan tetap berada dalam ilmu dan kehendak Allah SWT. Namun seorang mukmin meyakini bahwa doa, istighfar, dan taubat adalah bagian dari sebab yang Allah SWT jadikan untuk mendatangkan kebaikan, perlindungan, dan perubahan keadaan.


Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا.


"Sesungguhnya Tuhan kalian Yang Mahasuci lagi Mahatinggi adalah Maha Pemalu dan Maha Mulia. Dia malu kepada hamba-Nya apabila hamba tersebut mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Salman Al-Farisi RA).


Hadis ini mengajarkan bahwa doa bukan sekadar permintaan, tetapi bentuk hubungan seorang hamba dengan Allah. Ketika manusia menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuannya, ia tidak hanya melihat besarnya ancaman, tetapi juga mengingat besarnya kekuasaan Allah SWT.


Karena itu, menghadapi potensi megathrust bukan hanya tentang mempersiapkan diri secara lahiriah, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan taubat nasional, memperbanyak doa, memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT, dan meningkatkan kepedulian antar sesama.


Jika Allah menghendaki, sesuatu yang diperkirakan manusia dapat berubah dengan kehendak-Nya. Allah mampu memberikan keselamatan, mengurangi dampak suatu musibah, bahkan mengangkat sesuatu yang menjadi ancaman bagi manusia.


 


Oleh karena itu,  seorang muslim tidak hidup dalam kepanikan, tetapi dalam keseimbangan: menerima ilmu sebagai bentuk ikhtiar, melakukan persiapan sebagai tanggung jawab, dan menggantungkan harapan tertinggi hanya kepada Allah SWT.


Ketakutan yang diarahkan kepada Allah SWT akan berubah menjadi kekuatan agar mendorong manusia untuk bertaubat, berdoa, berikhtiar, dan berharap penuh kepada rahmat-Nya.


Wallahua’lam.

Bagikan Konten Melalui :