Hutang Puasa Wajib Bagi Yang Sudah Wafat

Hutang Puasa wajib bagi yang telah meninggal dunia, bisa dibayarkan oleh siapa dan bagaimana caranya? Simak konsultasi berikut ini!

Da'i Ambassador

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Izinkan saya bertanya mengenai dua hadis yang sekilas bertentangan mengenai orang yang berhutang puasa wajib bagi yang sudah meninggal dunia. Satu hadis menyatakan bahwa wali (ahli waris) dapat menggantikan hutang puasa dengan cara dia berpuasa untuk almarhum. Sedangkan ada hadis lain yang justru menyatakan bahwa hutang puasa orang yang sudah wafat digantikan dengan fidyah. Dan ada juga hadis yang merinci, yang isinya jika yang ditinggalkan adalah puasa Ramadan, maka digantikan dengan fidyah, dan untuk hutang puasa wajib karena nazar atau kafarat, digantikan dengan puasa oleh wali (ahli waris) almarhum.

Saya jadi bingung, Ustaz. Yang benar yang mana? Saya sebagai anak dari Almarhum mengetahui bahwa ayah saya meninggalkan puasa Ramadan. Jadi, saya harus mempuasakan atas nama ayah saya atau saya bayar fidyah atas nama almarhum? 

Mohon pencerahannya dan terima kasih banyak sebelumnya.

Wassalam.

Jawaban:

Wa'alaikumussalam Wr Wb.

Mengenai masalah ini, setidaknya ada beberapa pendapat para ulama, diantaranya:


  1. Memilih pendapat untuk mempuasakan almarhum.
  2. Memilih pendapat sebaliknya, difidyahkan, tidak dipuasakan.
  3. Merinci, difidyahkan jika hutang puasanya adalah puasa Ramadan, dan dipuasakan jika hutang puasanya adalah puasa nazar atau puasa kafarat
  4. Boleh memilih untuk difidyahkan atau dipuasakan.

Untuk menyingkat pembahasan, kami akan kemukakan dalil hadis yang menjadi pegangan para ulama dalam berijtihad, diantaranya:

Hutang puasa wajib bisa digantikan dengan cara dipuasakan oleh wali (ahli waris).


عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ ‏"‏‏.‏

Dari Aisyah RA: Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggal padahal dia masih punya kewajiban puasa, maka walinya bisa berpuasa untuknya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).

Ada juga syahid dari hadis ini dengan redaksi yang lebih panjang, yaitu:

عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتۡ وَعَلَيۡهَا صَوۡمُ شَهۡرٍ، أَفَأَقۡضِيهِ عَنۡهَا؟ قَالَ: (نَعَمۡ)، قَالَ: (فَدَيۡنُ اللهِ أَحَقُّ أَنۡ يُقۡضَى). قَالَ سُلَيۡمَانُ: فَقَالَ الۡحَكَمُ وَسَلَمَةُ، وَنَحۡنُ جَمِيعًا جُلُوسٌ حِينَ حَدَّثَ مُسۡلِمٌ بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ، قَالَا: سَمِعۡنَا مُجَاهِدًا يَذۡكُرُ هَٰذَا عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ. وَيُذۡكَرُ عَنۡ أَبِي خَالِدٍ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنِ الۡحَكَمِ وَمُسۡلِمٍ الۡبَطِينِ وَسَلَمَةَ بۡنِ كُهَيۡلٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ وَعَطَاءٍ وُمَجَاهِدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: قَالَتِ امۡرَأَةٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ أُخۡتِي مَاتَتۡ. وَقَالَ يَحۡيَى وَأَبُو مُعَاوِيَةَ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ مُسۡلِمٍ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: قَالَتِ امۡرَأَةٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ أُمِّي مَاتَتۡ. وَقَالَ عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَبِي أُنَيۡسَةَ، عَنِ الۡحَكَمِ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: قَالَتِ امۡرَأَةٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ أُمِّي مَاتَتۡ وَعَلَيۡهَا صَوۡمُ نَذۡرٍ. وَقَالَ أَبُو حَرِيزٍ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: قَالَتِ امۡرَأَةٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: مَاتَتۡ أُمِّي وَعَلَيۡهَا صَوۡمُ خَمۡسَةَ عَشَرَ يَوۡمًا.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Seseorang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku sudah meninggal dan ia punya hutang puasa sebulan. Apakah aku bisa melunasi puasa tersebut darinya? Beliau menjawab, “Iya, bisa.” Beliau melanjutkan, “Utang kepada Allah lebih pantas untuk dilunasi.” Sulaiman mengatakan: Al-Hakam dan Salamah mengatakan, dan kami sedang duduk ketika Muslim menceritakan hadis ini. Keduanya mengatakan: Kami mendengar Mujahid menyebutkan hadis ini dari Ibnu ‘Abbas. Disebutkan pula dari Abu Khalid: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Al-Hakam, Muslim Al-Bathin, dan Salamah bin Kuhail, dari Sa’id bin Jubair, ‘Atha`, dan Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas: Seorang wanita mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya saudara perempuanku telah meninggal. Yahya dan Abu Mu’awiyah mengatakan: Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Muslim, dari Sa’id, dari Ibnu ‘Abbas: Seorang wanita mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya ibuku telah meninggal. ‘Ubaidullah mengatakan, dari Zaid bin Abu Unaisah, dari Al-Hakam, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas: Seorang wanita mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan beliau memiliki hutang puasa nazar. Abu Hariz mengatakan: ‘Ikrimah menceritakan kepada kami, dari Ibnu ‘Abbas: Seorang wanita mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Ibuku telah meninggal dan ia memiliki utang puasa lima belas hari. (HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasa’i).

Hutang puasa dibayarkan dengan cara difidyahkan.

عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: (مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صِيَامُ شَهۡرٍ فَلۡيُطۡعَمۡ عَنۡهُ مَكَانَ كُلِّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا). حَدِيثُ ابۡنِ عُمَرَ لَا نَعۡرِفُهُ مَرۡفُوعًا إِلَّا مِنۡ هَٰذَا الۡوَجۡهِ. وَالصَّحِيحُ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ مَوۡقُوفٌ قَوۡلُهُ. وَاخۡتَلَفَ أَهۡلُ الۡعِلۡمِ فِي هَٰذَا الۡبَابِ. فَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: يُصَامُ عَنِ الۡمَيِّتِ. وَبِهِ يَقُولُ أَحۡمَدُ، وَإِسۡحَاقُ؛ قَالَا: إِذَا كَانَ عَلَى الۡمَيِّتِ نَذۡرُ صِيَامٍ، يَصُومُ عَنۡهُ. وَإِذَا كَانَ عَلَيۡهِ قَضَاءُ رَمَضَانَ، أَطۡعَمَ عَنۡهُ. وقَالَ مَالِكٌ، وَسُفۡيَانُ، وَالشَّافِعِيُّ: لَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنۡ أَحَدٍ. وَأَشۡعَثُ هُوَ: ابۡنُ سَوَّارٍ. وَمُحَمَّدٌ هُوَ، عِنۡدِي: ابۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي لَيۡلَى.

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Siapa saja yang meninggal dalam keadaan masih ada kewajiban puasa satu bulan, maka hendaknya ada yang memberi makan satu orang miskin atas namanya sebagai ganti satu hari (fidyah).”

Hadis Ibnu ‘Umar ini tidak kami ketahui marfuk kecuali dari jalur ini. Yang sahih dari Ibnu ‘Umar adalah mauquf ucapan dari beliau. 

Para ulama berselisih di dalam bab ini. Sebagian mereka berkata: Ada yang berpuasa atas nama orang yang meninggal. Yang berpendapat demikian adalah Ahmad dan Ishaq. Keduanya berkata: Apabila orang yang meninggal masih ada tanggungan nazar puasa, maka hendaknya ada yang berpuasa atas namanya. Apabila dia masih punya tanggungan qadha puasa Ramadan, maka hendaknya ada yang memberi makan atas namanya. Malik, Sufyan, dan Asy-Syafi’i berkata: Tidak bisa seseorang berpuasa atas nama orang lain. Asy’ats adalah Ibnu Sawwar. Muhammad menurutku adalah Ibnu ‘Abdurrahman bin Abu Laila. (HR. At-Tirmidzi).


Diperinci dulu, jika hutang puasanya adalah puasa wajib Ramadan, maka digantikan dengan fidyah, dan jika hutangnya adalah puasa wajib karena nazar atau kafarat, maka diganti dengan cara dipuasakan atas namanya.

عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ مَاتَ وَلَمۡ يَصُمۡ أُطۡعِمَ عَنۡهُ وَلَمۡ يَكُنۡ عَلَيۡهِ قَضَاءٌ، وَإِنۡ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنۡهُ وَلِيُّهُ.

Dari Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Jika seseorang sakit di bulan Ramadan kemudian meninggal dan belum sempat berpuasa, maka memberi makan (fidyah) atas namanya dan tidak ada utang qadha puasa atasnya. Namun jika dia bernazar, maka walinya mengqadha atas namanya. (HR. Abu Daud).

Secara ringkas, Al-Imam An-Nawawi menyampaikan pendapat para ulama dalam masalah ini, sebagai berikut:

اختلف العلماء فيمن مات وعليه صوم واجب من رمضان ، أو قضاء أو نذر أو غيره ، هل يقضى عنه ؟

 وللشافعي في المسألة قولان مشهوران : أشهرهما : لا يصام عنه ، ولا يصح عن ميت صوم أصلا .

والثاني : يستحب لوليه أن يصوم عنه ، ويصح صومه عنه ويبرأ به الميت ، ولا يحتاج إلى إطعام عنه ، وهذا القول هو الصحيح المختار الذي نعتقده ، وهو الذي صححه محققو أصحابنا الجامعون بين الفقه والحديث لهذه الأحاديث الصحيحة الصريحة. 

وأما الحديث الوارد " من مات وعليه صيام أطعم عنه " فليس بثابت ، ولو ثبت أمكن الجمع بينه وبين هذه الأحاديث بأن يحمل على جواز الأمرين ، فإن من يقول بالصيام يجوز عنده الإطعام ، فثبت أن الصواب المتعين تجويز الصيام ، وتجويز الإطعام ، والولي مخير بينهما.

 والمراد بالولي القريب ، سواء كان عصبة أو وارثا أو غيرهما ، وقيل : المراد الوارث ، وقيل : العصبة ، والصحيح الأول.


 ولو صام عنه أجنبي إن كان بإذن الولي صح وإلا فلا في الأصح ، ولا يجب على الولي الصوم عنه ، لكن يستحب .[1]


“Para Ulama berbeda pendapat mengenai orang yang meninggal dunia dan mempunyai hutang puasa wajib Ramadan, puasa qada, puasa nazar atau puasa wajib lainnya, apakah dipuasakan untuknya? 

Mengenai masalah ini, terdapat dua qaul Imam As-Syafi’I yang masyhur. Pertama, qaul yang paling masyhur adalah tidak dipuasakan. Puasa untuk mayit tidak sah menurut asal.

Qaul kedua, dianjurkan bagi wali dari mayit untuk mempuasakannya. Puasa untuk mayit adalah sah dan mayit menjadi terbebaskan dari hutang puasanya itu. Dengan dipuasakan, maka tidak perlu difidyahkan. Qaul ini merupakan qaul shahih yang kami pilih dan kami yakini. Qaul inilah yang dishahihkan oleh para muhaqqiq ashab kami yang mengkompromikan antara ilmu fiqih dan hadis terhadap hadis-hadis shahih yang sharih (jelas secara teks atau nash).

Adapun hadis mengenai orang yang meninggal dunia dan memiliki hutang puasa harus difidyahkan, adalah tidak tsabit (tidak kuat). Adapun jika hadis tersebut dianggap shahih, maka hadis ini harus dijama’ (dikompromikan maknanya) dengan hadis-hadis ini (hadis dipuasakan bagi mayit) agar dimungkinkan maknanya menjadi boleh dua-duanya, karena pendapat yang mengatakan dipuasakan, maka menurutnya boleh juga untuk difidyahkan. Dengan begitu, dapat ditetapkan bahwa yang benar adalah membolehkan puasa dna membolehkan fidyah. Dengan begitu, wali si mayit boleh memilih antara keduanya (berpuasa untuk mayit atau membayarkan fidyah).

Yang dimaksud dengan wali, adalah yang dekat (dengan mayit), baik ashabah (kerabat dari garis ayah),  ahli waris langsung atau selain keduanya. Ada qaul yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ahli waris, dan ada juga yang mengatakan ashàbah (kerabat dari garis ayah). Pendapat yang sahih adalah pendapat pertama, yaitu ahli waris. 

Adapun jika ada orang lain (ajnabi, tidak ada hubungan darah dengan mayit) yang mempuasakannya, menjadi sah puasanya tersebut jika diizinkan oleh wali si mayit, jika tidak ada izin darinya, maka puasa tersebut dianggap tidak sah. Wali si mayit tidak wajib berpuasa bagi mayit (untuk menebus hutang puasanya), tetapi hanya sebatas mustahab (dianjurkan).”

Jika mengikuti keterangan Al-Imam An-Nawawi di atas, maka beliau lebih cenderung kepada pendapat kedua dalam mazhab As-Syafi’I, yaitu mayit yang berhutang puasa dapat dibayarkan dengan dipuasakan oleh ahli warisnya. Dan bagi wali yang memilih antara difidyahkan dengan dipuasakan juga boleh. 

Adapun yang biasa dilakukan oleh mayoritas muslim di Indonesia adalah mengikuti qaul Imam As-Syafi’I yang pertama, yaitu difidyahkan.

Demikian yang dapat kami sampaikan dan semoga bermanfaat.

Wallahu A’lam.

Foto : Freepik
__________


[1]An-Nawawi, Shahih Muslim Bi Syarh An-Nawawi, Mu’asssasah Qurthubah, Cairo, 1414 H, Juz 8,  Hal. 37-38.

Bagikan Konten Melalui :