Kabar Terbaru

Seharusnya Tidak Genit

Menurut KBBI, genit artinya bergaya-gaya (tingkah lakunya) banyak tingkahnya; keletah: siapa gadis yang – itu.[1] Dalam perbincangan sehari-hari, genit merupakan konotasi negatif bagi perempuan atau gadis yang tingkah lakunya dianggap berlebihan dengan tujuan agar dia mendapat perhatian dari lawan jenis, terutama yang disukainya. Biasanya, orang tidak simpati kepada perempuan atau gadis genit. Genit mengakibatkan jatuhnya harga diri seseorang.

Apakah genit hanya tertuju untuk kaum perempuan saja? Tidak juga sih. Laki-laki juga ada yang genit. Tapi tentunya sangat jarang.

Wanita muslimah sangat dituntut menjaga ifah dan izah. Ifah artinya menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik. Sedangkan izah artinya menjaga kemuliaan atau harga diri. Siapa saja akan merasa nyaman ketika melihat seorang wanita atau gadis muslimah yang penuh ifah dan izah. Lihatlah seorang gadis muslimah yang berhijab dengan sangat baik dan santun dalam bertutur kata. Dia akan terlihat elegan dan berwibawa. Muslimah seperti inilah yang menjadi dambaan hati seorang muslim Dimana saja.

Mengenai ifah dan izah, ada sejarah faktual mengenai hal itu di dalam Al-Qur’an tatkala mengisahkan pertemuan Nabi Musa AS dengan dua anak gadis Nabi Syuaib AS[2] yang juga merupakan salah seorang tokoh negeri Madyan.  Dari pertemuan tersebut, Nabi Syauaib AS menikahkan salah satu putrinya dengan Musa AS. Berikut ayatnya:

فَجَآءَتْهُ إِحْدَىٰهُمَا تَمْشِى عَلَى ٱسْتِحْيَآءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِى يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيْهِ ٱلْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatangi ayahnya dan dia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (Q.S. Al-Qasas: 25).

Kita akses tafsir Jalalain mengenai tafsir ayat di atas sebagai berikut:

“(Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan) seraya menutupkan kain kerudung ke mukanya karena malu kepada Nabi Musa (ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap kebaikanmu memberi minum ternak kami”) Nabi Musa memenuhi panggilannya dan menolak dalam hatinya upah yang akan diberikan kepadanya, karena seolah-olah wanita itu bermaksud hendak memberi upah dan menganggap dirinya sebagai seorang upahan. Kemudian wanita itu berjalan di muka Nabi Musa tiba-tiba angin meniup kainnya, sehingga terlihat kedua betisnya. Lalu Nabi Musa berkata kepadanya, “Berjalanlah engkau di belakangku dan tunjukkanlah jalan itu kepadaku”. Wanita itu menuruti apa yang dikatakan oleh Nabi Musa, sehingga Nabi Musa sampai ke tempat bapak wanita itu, dia adalah Nabi Syuaib AS. Ketika Nabi Musa sampai di hadapannya ternyata telah disiapkan makan malam, maka Nabi Syuaib berkata, “Duduklah, kemudian makan malamlah”. Nabi Musa menjawab, “Aku khawatir jika makan malam ini sebagai imbalan karena aku telah memberi minum ternak keduanya, sedangkan aku berasal dari ahlul bait yang tidak pernah meminta imbalan dari suatu pekerjaan yang baik”. Nabi Syuaib berkata, “Tidak, ini merupakan tradisiku dan tradisi nenek moyangku. Kami biasa menjamu tamu kami, juga biasa memberi makan”. Nabi Musa baru mau memakannya dan menceritakan kepadanya semua apa yang telah ia alami. Untuk itu maka Allah ﷻ berfirman, (“Maka tatkala Musa mendatangi bapak wanita itu dan menceritakan kepadanya kisah mengenai dirinya) lafal Al Qashash adalah Mashdar yang bermakna Isim Maf’ul maksudnya Nabi Musa menceritakan kepadanya tentang pembunuhannya terhadap seorang bangsa Mesir dan niat bangsa Mesir untuk membunuhnya, serta kekhawatirannya terhadap Firaun (Syuaib berkata, ‘Janganlah kamu takut! Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim’.”) karena tidak ada kekuasaan bagi Firaun atas negeri Madyan.[3]

Lihatlah akhlak anak gadis Nabi Syuaib AS yang begitu pemalu ketika dia harus bertemu dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya. Begitu juga dengan Nabi Musa AS, beliau tidak memanfaatkan kesempatan. Lihatlah bagaimana beliau meminta sang gadis untuk jalan dibelakang beliau demi menjaga pandangan.

Lalu bagaimana dengan gadis-gadis muslimah sekarang? Miris! Banyak dari mereka yang walaupun berhijab namun pecicilan! Joget Tiktok! Dan memposting video ataui selfi mereka dengan gaya yang sangat tidak pantas. Ya Salam… Semoga para orang tua menyadari hal ini, bukan ikutan senang dan ketawa-ketiwi melihat tingkah polah genit mereka seperti itu!

Wallahu A’lam.

[1] https://kbbi.web.id/genit, diakses pada tanggal 22 Desember 2023, pukul 14:37 WIB.

[2] Para ulama berbeda pendapat, apakah Syuaib dimaksud adalah benar-benar Nabi Syuaib AS. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud bukankah Nabi Syuaib, tapi kemenakan Nabi Syauib karena saat itu Nabi Syuaib AS sudah wafat, Namun jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah benar-benar Nabi Syuaib AS. Silakan lihat beberapa kitab tafsir, diantaranya adalah Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an karya Imam Al-Qurthubi, Tafsir Ibn Katsir dan Tafsir Jalalain.

[3] Lihat Tafsir Jalalain Al-Muyassar, Maktabah Libnan, Beirut: Cetakan Pertama, 2003, Hal. 388.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *