Kabar Terbaru

Menggapai Lailatul Qadar

Lailatul Qadar, suatu kata yang sudah akrab di telinga sejak kita kecil. Kita pun sudah tahu bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Pengetahuan kita tentang malam lailatul qadar berdasarkan ilmu yang kita peroleh dari guru agama kita di sekolah, guru ngaji ataupun orang tua kita. Semua pengetahuan tersebut seluruhnya bersumber dari Q.S. Al-Qadr: 3-5 sebagai berikut:

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ ﴿٥﴾

“(3). Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4). Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (5). Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Mengenai ayat 3 ini, As-Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menulis dalam kitabnya, Tafsir Al-Wajiz sebagai berikut: “Malam lailatul qadar yaitu malam dimana amal salih ketika itu lebih baik daripada amal selama seribu bulan di waktu selain lailatul qadar. Jarir mengatakan dari Mujahid yang berkata: “Salah satu laki-laki dari Bani Israil ada yang melaksanakan salat di waktu malam sampai pagi, kemudian berperang memerangi musuhnya di waktu siang sampai sore, dan dia melaksanakan hal itu selama seribu bulan, kemudian Allah menurunkan ayat {Lailatul qadri khairum min alfi syahr} sebagaimana yang diamalkan oleh laki-laki itu.”

Dan pada malam tersebut, bumi disesaki oleh para malaikat yang dipimpin oleh Jibril. Para malaikat mendoakan orang-orang yang beribadah di malam tersebut. Masih dalam kitab yang sama, Asy-Syaikh Wahbah melanjutkan penafsiran ayat 4 dan 5 sebagai berikut: “Malaikat berbondong-bondong turun ke bumi beserta Jibril di antaranya pada malam ini atas perintah Tuhan mereka untuk menunaikan setiap perkara yang hendak dipenuhi oleh Allah di tahun berikutnya, dan memberikan kebaikan untuk orang-orang yang taat, di antaranya adalah ada yang mendoakan keselamatan mereka, memohonkan ampun dan mendoakan mereka. Malam ini adalah malam (yang penuh) kesejahteraan dan penuh kebaikan mulai permulaannya sampai terbitnya fajar.”

Menurut hadis sahih, Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menggapai malam tersebut pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Rasullah SAW bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ. (رواه البخارى و مسلم و الترمذى و احمد).

Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan”. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ahmad).

 Lalu bagaimana cara memnggapai malam terbaik tersebut? Ya tentu banyak caranya. Diantaranya adalah dengan memperbanyak i’tikaf di 10 malam terakhir. Bangunkan anak dan istri kita untuk memperbanyak ibadah sebagaimana hadis Rasulullah SAW:

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوقِظُ أَهْلَهُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ. (رواه البرمذى).

 “Dari Ali bahwa Nabi SAW biasa membangunkan keluarganya pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan.” (HR. At-Tirmidzi).

Sekalipun tidak bisa ber’itikaf sepanjang malam, kita bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an atau berzikir di rumah kita. Jangan sampai karena alasan tidak ber’itikaf, kita habiskan malam kita dengan sesuatu yang kurang bermanfaat. Perbanyak pula membaca doa berikut ini, terutama di 10 malam terakhir sebagimana hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي. (رواه الترمذى).

Dari Aisyah ia berkata; wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui malam apakah lailatul qadr, maka apakah yang aku ucapkan padanya? Beliau mengatakan: “Ucapkan; Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku). (HR. At-Tirmidzi).

Lalu bagimana dengan orang-orang yang memang harus bekerja di malam hari dan tidak sempat ber’itikaf seperti para sekuriti, sopir bis malam, atau pegawai yang mendapatkan jadwal piket malam hari? Apakah mereka bisa mendapatkan lailatul qadar? Ya tentu bisa, selagi pada malam itu mereka beribadah. Jika mereka tidak sempat qiyamullail, mereka bisa bekerja sambil memperbanyak zikir. Zikir apa? Banyak, bisa dengan salawat. Tahlil, tasbih, tahmid atau istigfar. Jangan sampai mengabaikan begitu saja hanya karena alasan pekerjaan. Dan terlebih lagi, jangan sampai bermaksiat di malam lailatul qadar. Ingatlah bahwa pada malam itu para malaikat berdesakan turun ke bumi untuk mendoakan hamba-hamba Allah.

Jumhur ulama sepakat lailatul qadar itu jatuh di malam ganjil berdasarkan hadis-hadis sahih. Lalu bagaimana jika tanggal 1 Ramadannya berbeda hari atau tanggal. Misalnya ada sebagian masyarakat kita yang  mengikuti pendapat bahwa tanggal 1 Ramadan jatuh hari Senin sedangkan sebagian lainnya meyakini hari Selasa. Tentunya bagi yang meyakini awal Ramadan hari senin, maka malam ganjilnya berbeda hitungan dengan meyakini awal Ramadan hari Selasa, bukan? Siapakah yang benar?

Masalah keyakinan jatuhnya awal Ramadan basic-nya adalah ijtihad. Begitupun dengan yang meyakini Selasa, juga hasil ijtihad. Untuk masalah ini, kita tidak perlu risau. Biarkan perbedaan itu ada dan tidak bisa dihindari. Namanya juga ijtihad, ya tidak mesti harus seragam alias sama. Serahkan sepenuhnya kepada Allah. Tugas kita hanya menghidupkan ibadah di 10 malam terakhir Ramadan. Masalah kepastian  kapan lailatul qadar sesungguhnya adalah hak prerogatif Allah, itu ranah Allah, bukan ranah orang yang meyakini malam ganjil berdasarkan awal Ramadan Senin atau Selasa.

Wallahu A’lam.
Foto : Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *