Kabar Terbaru

Memaafkan, Amalan Mulia Yang Tidak Mudah

Memaafkan merupakan amalan yang sangat mulia. Memaafkan kesalahan orang lain, terutama kesalahannya besar, memang tidak mudah. Karena amalan ini sulit, maka orang yang mampu memaafkan bisa disebut orang hebat.

Satu lagi, karena memaafkan merupakan amalan mulia, maka orang yang mampu memaafkan tentu termasuk orang mulia.

Ada satu kisah yang begitu mendalam dan menggugah perihal memberi maaf. Allah SWT menggambarkan betapa lapangnya dada nabi Yusuf ketika memaafkan saudara-saudaranya yang pernah menyakitinya semasa kecil. Simak Q.S Yusuf ayat 90 berikut!

قَالُوٓا۟ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِى قَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَآ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ ﴿٩٠﴾
“Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf?” Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

 Setelah Nabi Yusuf bertanya kepada saudara-saudaranya sebagaimana yang dikisahkan pada ayat sebelumnya, mereka sangat takjub, terkejut, antara gembira dan takut dan membuat mereka curiga apakah orang yang ada di hadapan mereka adalah adik mereka, Yusuf? Mereka sungguh takjub karena kurang lebih dua tahun dan beberapa kali bertemu mereka benar-benar tidak menyadari bahwa dia adalah Yusuf.

 Dengan penuh tanda tanya dan rasa takut yang tiada terkira, akhirnya mereka memberanikan untuk meyakinkan dan bertanya :

أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُ ؟

“Apakah engkau benar-benar Yusuf?”

Menurut para ulama, hal yang menyebabkan mereka bertanya demikian, diantaranya adalah :

  1. Tidak ada yang mengetahui perbuatan buruk mereka kucuali hanya Yusuf seorang. (Al-Qasimi).
  2. Lama kelamaan mereka menyadari bahwa lawan bicara mereka (Al-Aziz) sangat mirip dengan kepribadian Yusuf, ditambah lagi keyakinan ayah mereka untuk mencari terus kabar Yusuf (As-Sya’rawi).
  3. Mereka mengenalinya dari parasnya yang tampan dan tabiatnya yang baik. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mengenalinya dari celah-celah giginya yang indah saat Yusuf tersenyum. Ada pula yang mengatakan bahwa ketika Yusuf membuka mahkota, mereka melihat tahi lalat persis seperti yang dimiliki Siti Sarah dan ayahnya Nabi Ya’qub As (Al-Baidhawi).
Tibalah saatnya Nabi Yusuf As membuka jati diri beliau yang kurang lebih dua tahun beliau rahasiakan sesuai perintah Allah. Beliau mengatakan :

أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِى

“Aku Yusuf dan ini saudaraku.”
 Akulah Yusuf, saudaramu yang dulu engkau perlakukan dengan zalim karena kedengkian yang sangat dalam terhadap diriku, Akulah orang yang dulu pernah kalian pukuli dan kalian membuangku dalam sumur. Kalian berbuat demikian karena mengikuti hawa nafsu bisikan syaithan ! dan disampingku ini adalah Benyamin, adikku yang kini Allah pertemukan denganku setelah hampir 40 tahun berpisah karena perbuatan kalian!

قَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَآ

 “Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.”
Allah melimpahkan kepada kami keselamatan dan kemuliaan. Allah telah menyelamatkan diriku dari makar dan tipu daya kalian. Allah menyelamatkan dari godaan para wanita Mesir yang mengumbar nafsu birahi mereka. Aku diselamatkan dari penjara yang telah kuhuni belasan tahun karena fitnah keji yang dituduhkan kepadaku. Allah memberikanku mukjizat untuk menakwilkan mimpi Raja Mesir untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan hebat selama 7 tahun. Allah juga telah memuliakanku dengan pangkat Al-Aziz untuk menata ekonomi rakyat Mesir. Dan setelah kalian mengenal diriku, Allah akan menambahkan karunia dengan mempertemukan aku dengan ayah kita yang telah menahan penderitaan sangat lama karena berpisah denganku !

إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

Semua ketakwaanku dan kesabaranku berbuah manis. Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Dia akan membalaskanya dengan kebaikan dunia dan akhirat.

 Wallahu A’lam

Foto : Unsplash
 Referensi :
  • Tafsir Ibn Katsir
  • afsir Al-Baidhawi
  • afsir Al-Qasimi
  • Tafsir Al-Sya’rawi
  • Tafsir Al-Wajiz Wahbeh Zuhaili

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *