Kabar Terbaru

Lihat Sikon Jika Ingin Menasihati!

Kita sepakat bahwa memberi nasihat itu merupakan kebaikan, baik untuk yang memberi nasihat maupun orang yang diberi nasihat. Saling memberi nasihat merupakan kebiasaan yang harus melekat pada diri setiap muslim sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ashr ayat 3.
Nasihat akan menjadi semakin baik jika pemberi nasihat mempertimbangkan kapan nasihat itu harus diberikan kepada orang lain jika nasihat itu masih bisa ditunda. Lain halnya jika nasihat yang akan diberikan tersebut bersifat sangat segera, apalagi darurat. Jika ada kawan kita yang sedang marah besar karena sesuatu hal, maka waktu yang tepat untuk memberinya nasihat adalah ketika dia sudah tidak dalam keadaan marah.
Walapun tidak langsung, Al-Qur’an telah mengajarkan kita perihal memberikan nasihat dengan cara yang baik dan melihat situasi dan kondisi. Kita bisa perhatikan Al-Qur’an Surat Yusuf dari ayat 36-41 sebagai berikut:

Ayat 36:

“Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur,” dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.” (Q.S. Yusuf: 36).

Intisari ayat 36:
Bermula dari dua orang pegawai istana yang dimasukan penjara karena salah satu diantara mereka tertuduh hendak meracuni raja Mesir. Mereka adalah pembuat makanan dan satunya lagi pembuat minum sang Raja. Di dalam penjara itu mereka berdua sama-sama bermimpi. Pembuat minum raja bermimpi bahwa ia melihat dirinya memeras anggur. Sedangkan pembuat makanan bermimpi bahwa dia meletakkan roti di atas kepalanya lalu roti itu dimakan oleh seekor burung.

Mereka berpikir keras agar bisa menakwilkan mimpi tersebut namun usaha mereka sia-sia dan hampir membuat mereka putus asa. Walhasil, mereka mencari siapakah orang yang sekiranya mampu menakwilkan mimpi mereka dengan akurat dan membuat mereka lega. Namun usaha mereka mencari orang yang dianggap mampu bukanlah mudah. Mereka berada di penjara yang tentunya secara umum dihuni oleh mereka yang mempunyai masalah hukum, entah masalah kriminal, politik, sengketa maupun tertuduh. Umumnya, orang yang mempunyai keahlian menafsirkan mimpi pada zaman itu mempunyai kedudukan tingggi dan terhormat.  Kedua pemuda tersebut merasa tidak mungkin menemukan ahli mimpi ada di penjara, Non Sen! Mereka menganggap bahwa ahli mimpi itu hanya ada di istana dengan gelimangan harta dan kedudukan!

Namun mereka terpesona dengan salah satu penghuni penjara yang sangat santun dan sangat baik. Ya, Yusuflah yang dimaksud. Yusuf adalah orang yang sangat baik fisik dan kepribadiannya. Ucapannya lembut, wajahnya berseri-seri, perkataannya penuh hikmah. Yusuf sangat terbiasa menolong atau mengobati para napi yang sakit dan menghibur mereka dari kegundahan. Sebagian ahli tafsir juga berpendapat bahwa Yusuf As juga terbiasa menakwilkan mimpi para napi dan hasilnya 100% akurat sehingga kedua pemuda ini meminta Yusuf untuk bersedia menakwilkan mimpi mereka pula. Melalui kisah ini, kita harus mengakui dengan jujur bahwa tidak semua orang masuk penjara karena kriminal, tapi ada juga beberapa orang baik yang masuk penjara akibat difitnah atau tahanan politik yang dianggap mengancam kekuasaan !

Ayat 37-40:

“Dia (Yusuf) berkata, “Makanan apa pun yang akan diberikan kepadamu berdua aku telah dapat menerangkan takwilnya, sebelum (makanan) itu sampai kepadamu. Itu sebagian dari yang diajarkan Tuhan kepadaku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka tidak percaya kepada hari akhirat.” (Q.S. Yusuf: 37)

 “Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Q.S. Yusuf: 38).

“Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa?” (Q.S. Yusuf: 39).

“Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Yusuf: 40).

Intisari ayat 37-40:

Setelah mendengar mimpi yang diceritakan oleh kedua orang pemuda sebagaimana tersebut di ayat 36, Nabi Yusuf As tidak langsung menjawab takwil mimpi mereka walaupun beliau mengetahuinya. Karena takwil mimpi dari salah satu pemuda itu menyangkut nyawa, maka Nabi Yusuf harus terlebih dahulu mengondisikan suasana dengan cara berdakwah kepada mereka agar siap menerima akibat apapun  dari takwil mimpi tersebut.

Selain berdakwah kepada mereka berdua, Nabi Yusuf juga tidak berkeinginan terjadinya perdebatan dan permusuhan dengan salah satu pemuda yang takwil mimpinya akan divonis mati. Pemuda tersebut harus diyakinkan terlebih dahulu bahwa takwil tersebut benar-benar akan terwujud. Maka Yusuf berkata kepada mereka berdua bahwa beliau mengetahui makanan apakah yang akan dihidangkan kepada mereka berdua nantinya. Seperti apa lauk-pauknya, bagaimana rasanya dan seterusnya. Ada pula kemungkinan penafsiran lainnya, yaitu selain mengetahui lauk-pauknya, beliau juga mengetahui apakah salah satu makanan yang akan dihidangkan kepada mereka berdua bebas dari racun atau tidaknya. Kebiasaan pada zaman itu adalah ketika seorang raja ingin membunuh salah seorang tahanan, maka sang raja menyuruh juru masak sipir untuk membubuhkan racun pada makanan untuk tahanan tersebut.

Perkataan Yusuf As terbukti. Makanan yang dihidangkan kepada mereka berdua sama persis seperti yang dikatakan Yusuf As. Dengan demikian mereka yakin dengan pasti bahwa takwil mimpi mereka yang akan dikatakan Yusuf nantinya sudah pasti akurat 100% sebagaimana makanan yang ia sampaikan.

Mereka takjub dengan mu’jizat Nabi Yusuf dan menyangka bahwa beliau adalah peramal ulung. Disnilah Nabi Yusuf memanfaatkan waktu untuk berdakwah kepada mereka bahwa beliau bukanlah seorang peramal atau dukun. Kemampuan mentakwil mimpi merupakan ilmu yang diajarkan oleh Allah, Tuhan Yang Kuasa atas segala sesuatu. Beliau mengenalkan Allah dengan segala sifatnya dan mengkritik peyembahan berhala dan dewa-dewa yang dilakukan oleh mereka dan seluruh masyarakat Mesir. Nabi Yusuf menerangkan bahwa agama yang dibawa beliau adalah agama yang sesuai dengan fitrah dan logika, tidak seperti agama mereka yang irasional dan ilusi semata. Dan pada akhirnya, dua pegawai istana dan seluruh penghuni penjara menerima hidayah dan menjadi pengikut Nabi Yusuf AS.

Intisari ayat 41:

Setelah mereka beriman, barulah Nabi Yusuf As menjawab takwil mimpi yang pernah ditanyakan kepadanya sebagaimana terdapat pada ayat 41:

يَٰصَىٰحِبَىِ ٱلسِّجْنِ أَمَّآ أَحَدُكُمَا فَيَسْقِى رَبَّهُۥ خَمْرًا وَأَمَّا ٱلْءَاخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ ٱلطَّيْرُ مِن رَّأْسِهِۦ قُضِىَ ٱلْأَمْرُ ٱلَّذِى فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ

“Wahai kedua penghuni penjara, “Salah seorang di antara kamu, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi dia akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku).”

Nabi Yusuf As mengatakan bahwa salah satu diantara kamu akan bebas dan menjalankan tugas seperti sebelumnya, membuat minum atau menyediakan minuman khamer kepada sang Raja. Dia akan bebas 3 hari lagi.

“Adapun yang seorang lagi. ”Si pembuat atau penyedia makanan untuk Raja. Tiga hari kemudian, dia akan disalib sampai mati dan burung akan memakan bangkainya di sebagian kepala.

Setelah mendengar jawaban takwil mimpi, mereka begitu kaget dan sampai-sampai mengatakan: “Sebetulnya kami tidak bermimpi apa-apa.” Lalu Nabi Yusuf menjawab:

قُضِىَ ٱلْأَمْرُ ٱلَّذِى فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ

“Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku).”

Begitulah takwil mimpi yang kalian tanyakan. Kalian bohong atau jujur ya sudah pasti terjadi. Allah SWT telah menetapkan keputusan-Nya untuk kalian berdua.

Menurut sebagian ulama, terkejutnya pembuat roti hanya spontan saja dan akhirnya ikhlas dan rida menerima takdir Allah bahwa ia akan mati di salib tiga hari lagi.

Begitulah yang dilakukan oleh nabi Yusuf, menasihati atau menjawab takwil mimpi setelah mereka beriman. Jika sudah beriman, pasti mereka rida dengan keputusan Allah.

Pemaparan yang sedikit panjang inilah yang menjadi inti dari judul tulisan ini: Lihat Sikon Jika Ingin Menasihati!

Wallahu Alam.
Tim Cordofa


Referensi:

  • Tafsir Mahasin Al-Ta’wil Lil Qasimi
  • Mafatih Al-Ghaib, Tafsir Al-Fakhr Al-Razi
  • Ma’alim Al-Tanzil Tafsir Al-Baghawi
  • Tafsir Jalalain

 

Foto : Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *