Yuk, Kembalilah!

bukankah lebih baik kembali ke jalan Allah melalui nasihat dan bimbingan, sebelum musibah datang mengetuk pintu kita? Jangan sampai kita baru tersadar ketika musibah sudah menimpa, saat semuanya sudah terlambat. Mau lanjutannya? Silakan klik tautan berikut!

Da'i Ambassador

Ketika manusia belum terlahir ke dunia dan masih berada di alam ruh, semuanya bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan. Mereka semua tunduk dan mengakui bahwa Allah adalah pencipta dan Tuhan mereka. Firman Allah:


وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدْنَآ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini." (Q.S. Al-A’raf: 172).

Pertanyaannya, jika manusia saat itu mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, lalu mengapa sebagian dari mereka justru tidak beragama Islam? Yang menjadikan mereka non muslim adalah orang tua mereka. Perhatikan hadis berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، قَالَ ابْنُ شِهَابٍ يُصَلَّى عَلَى كُلِّ مَوْلُودٍ مُتَوَفًّى وَإِنْ كَانَ لِغَيَّةٍ، مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ، يَدَّعِي أَبَوَاهُ الإِسْلاَمَ أَوْ أَبُوهُ خَاصَّةً، وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهُ عَلَى غَيْرِ الإِسْلاَمِ، إِذَا اسْتَهَلَّ صَارِخًا صُلِّيَ عَلَيْهِ، وَلاَ يُصَلَّى عَلَى مَنْ لاَ يَسْتَهِلُّ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ سِقْطٌ، فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ كَانَ يُحَدِّثُ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ‏"‏‏.‏ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه – ‏{‏فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا‏}‏ الآيَةَ‏.‏

"Diriwayatkan dari Ibn Shihab: Shalat jenazah harus dilakukan untuk setiap anak, meskipun dia adalah anak seorang pelacur, karena dia dilahirkan dengan fitrah Islam (yaitu, untuk menyembah tidak ada selain Allah). Jika orang tuanya adalah Muslim, terutama ayahnya, meskipun ibunya bukan Muslim, dan jika dia setelah melahirkan menangis (meskipun sekali) sebelum kematiannya (yaitu, lahir hidup), maka shalat jenazah harus dilakukan. Dan jika anak itu tidak menangis setelah melahirkan (yaitu, lahir mati), maka shalat jenazahnya tidak boleh dilakukan, dan dia akan dianggap sebagai keguguran. Abu Huraira meriwayatkan bahwa Nabi (ﷺ) bersabda, "Setiap anak dilahirkan dengan fitrah yang benar (yaitu, untuk menyembah tidak ada selain Allah), tetapi orang tuanya mengubahnya menjadi Yahudi atau Kristen atau Majusi, seperti hewan melahirkan anak hewan yang sempurna. Apakah kamu menemukan cacat di dalamnya?" Kemudian Abu Huraira membaca ayat suci: 'Fitrah Allah yang telah Dia ciptakan manusia di atasnya (Q.S. Ar-Rum: 30).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sungguh beruntungnya kita yang tetap konsisten beragama Islam sejak kita berada di Alam ruh, dilahirkan ke dunia melalui kedua orang tua kita yang juga muslim dan sampai saat ini hingga ajal tiba, Insya Allah kita tetap istikamah dalam Islam, aamiin.

Namun, adakalanya hamba Allah yang tersesat jalan karena mengikuti rayuan setan. Terhadap mereka, kita berkewajiban untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhai Allah. Janganlah memandang mereka dengan memicingkan mata karena sejatinya, mereka adalah saudara kita sesama muslim. Apakah kita tega membiarkan orang yang tersesat di jalan? Bukanlah kita yang menyadari harus membimbing mereka agar kembali ke jalan yang benar? 

Jika kita merasa tidak tersesat, tetaplah berdoa agar kita selalu dibimbing oleh Allah SWT. Biaskanlah memohon ampun (istighfar) dan berdoa, terutama doa yang terdapat pada ayat berikut:


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ.

"(Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (Q.S. Al-A’raf: 8)."

Kasih sayang Allah tidak pernah putus kepada kita. Ketika seseorang jauh dari Allah, ada saja jalan yang Allah berikan kepadanya agar mau kembali. Namun, jalan yang Allah berikan tidak disadari. Ada baiknya kita insafi beberapa jalan dari Allah agar manusia kembali kepada-Nya.

Nasihat

Adakalanya nasihat menjadi pengingat seseorang untuk kembali kepada Allah. Ketika orang mau mendengar nasihat dan menaatinya, dia telah menemukan jalan kembali kepada Allah. Berapa banyak orang yang semula jahat, urakan, zalim dan sebagainya, berubah setelah mendengar nasihat dari orang lain.

Hadis Nabi SAW:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ.

“Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu, beliau ditanya, “Apa enam perkara itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia memperoleh rahmat. Bila dia sakit, kunjungilah dia. Dan bila dia meninggal dunia, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” (HR. Muslim).

Sakit

Sakit bukanlah semata kondisi tubuh yang sedang melemah. Bisa jadi, sakit merupakan teguran kepada kita agar lebih dekat dengan Allah SWT. Terkadang, kondisi prima atau sehat membuat kita lupa diri dan lalai dari ingat dan patuh kepad Allah. Di saat sakit, biasanya orang menyadari bahwa yang kuat dan tidak pernah sakit adalah Allah.

Orang yang ingat dan bersabar menerima takdir sakit, tentu menjadi penghapus dosa baginya. Hadis Nabi SAW:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً»

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang mukmin, baik berupa duri atau yang lebih dari itu, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya dan menghapus kesalahan-kesalahannya dengan sebab (musibah) itu.” (HR. Al-Bukhari).

Tertimpa Musibah

Musibah, seperti kecelakaan, kebakaran, paceklik, kebangkrutan, dan lainnya, bisa menjadi ujian, peringatan, atau bahkan hukuman. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui apa tujuan-Nya ketika Dia menimpakan musibah kepada hamba-Nya.

Bagi orang yang beriman, musibah dapat kita tafsirkan sebagai ujian untuk meninggikan derajatnya di sisi Allah. Bagi mereka yang berdosa, musibah bisa menjadi peringatan, sebuah tanda untuk kembali dan mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang terus menerus berbuat zalim, musibah bisa kita lihat sebagai hukuman, agar mereka berhenti melakukan kezaliman yang lebih besar.

Namun, bukankah lebih baik kembali ke jalan Allah melalui nasihat dan bimbingan, sebelum musibah datang mengetuk pintu kita? Jangan sampai kita baru tersadar ketika musibah sudah menimpa, saat semuanya sudah terlambat.

Wallahu A’lam.

Foto : Freepik

Bagikan Konten Melalui :