Tadabbur Al-Quran Surat Ad-Duha
Betapa besar kecintaan Allah kepada kekasih-Nya, Rasulullah Muhammad SAW. Yuk. kita simak keindahan makna dan pesan Al-Qur'an melalui Surat Ad-Duha!
سورة الضحى
Surat Ad-Dhuha
Muqaddimah
Surat ini termasuk golongan surat makiyah, 11 ayat, 40 kata seperti jumlah kata pada surat Al-Adiyat dan berjumlah 172 huruf. Untuk jumlah ayat, semua ulama sepakat menghitungnya.[1]
Sebab Turun (Sababun Nuzul):
Ayat 1-3, berdasarkan hadis riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibn Abi Hatim, Al-Baghawi, Ibn Jarir, At-Thabrani, Al-Wahidi, Al-Baihaqi dalam kitab Dala’ilnya dari jalur Sufyan dari Al-Aswad Ibn Qais, Dari Jundab RA, dia berkata: “Salah seorang wanita Quraisy berkata kepada Nabi SAW: “Saya tidak melihat syaitanmu, kecuali dia telah meninggalkanmu.” Maka turunlah 3 ayat ini. Ini adalah redaksi (lafaz) Al-Wahidi. Mengenai redaksi ini adal syahid, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ibn Jarir dari jalur Yazib Ibn Zaid secara mursal. Yang dimaksud wanita Quraisy tersebut adalah Ummu Jamil, isteri Abu Lahab.[2]
Jika melihat Hadis Muslim, ada redaksi yang lebih lengkap sebagai berikut:
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ رَافِعٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ سَمِعْتُ جُنْدُبَ بْنَ سُفْيَانَ يَقُولُا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ شَيْطَانُكَ قَدْ تَرَكَكَ لَمْ أَرَهُ قَرِبَكَ مُنْذُ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى } و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالُوا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا الْمُلَائِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيثِهِمَا.[3]
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Rafi' sedangkan lafadznya dari Ibnu Rafi'. Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Rafi' mengatakan; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Al Aswad bin Qais dia berkata; aku mendengar Jundub bin Sufyan berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengalami sakit, oleh karena itu beliau tidak kuat bangun untuk melaksanakan shalat selama dua atau tiga hari, maka seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata, "Ya Muhammad, aku berharap mudah-mudahan setanmu betul-betul telah meninggalkanmu. Telah dua malam atau tiga malam aku tidak melihatnya menghampirimu. Maka Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat: '(Demi waktu Dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada mennggalkanmu dan tiada benci terhadapmu) ' (Qs. Ad-Dluha; 1-3). Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Al Mutsanna serta Ibnu Basyar mereka mengatakan; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Al Mula`i telah menceritakan kepada kami Sufyan keduanya dari Al Aswad bin Qais dengan isnad ini seperti kedits keduanya." (HR. Muslim).
Dengan demikian, latar belakang turunnya Surat Ad-Dhuha ini adalah untuk menguatkan hati Rasulullah SAW yang telah dituduh ditinggalkan oleh Allah karena wahyu tidak turun beberapa waktu.
Gambaran umum surat ini:
- Pesan yang kuat dari Allah bahwa beliau akan selalu bersama Allah dan akan selalu menolongnya.
- Menyampaikan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan dunia yang sebentar.
- Ajaran kasih sayang kepada sesama, terutama kepada anak yatim.
Betapa pentingnya pesan Allah dalam surat ini, sehingga Allah mengawalinya dengan bersumpah demi waktu duha dan demi waktu malam dengan kesunyiannya.
Hikmah dari sumpah Allah dengan menggunakan objek makhluk, menurut Manna’ Al-Qatthan adalah:
ولله أن يحلف بماء شاء، أما حلف العباد بغير الله فهو ضرب من الشرك، فعن عمر بن الخطاب, رضي الله عنه أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: "من حلف بغير الله فقد كفر - أو أشرك". وإنما أقسم الله بمخلوقاته؛ لأنها تدل على بارئها، وهو الله تعالى، وللإشارة إلى فضيلتها ومنفعتها ليعتبر الناس بها وعن الحسن قال: "إن الله يقسم بما شاء من خلقه وليس لأحد أن يقسم إلا بالله.[4]
"Sesungguhnya Allah dapat bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki. Adapun sumpah yang dilakukan oleh hamba selain dengan nama Allah adalah bentuk dari syirik. Dari Umar bin Khattab, RA, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 'Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah kafir atau syirik.' Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya karena makhluk tersebut menunjukkan kebesaran Penciptanya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sebagai tanda akan keutamaan dan manfaatnya agar manusia dapat mengambil pelajaran darinya. Dan dari Al-Hasan, ia berkata: 'Sesungguhnya Allah bersumpah dengan apa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, dan tidak ada seorang pun yang berhak bersumpah kecuali dengan nama Allah.'
Diantara Fadhilah Surat Ad-Dhuha:
Allahu Yarham, Syaiikhunal Jalil Wahbah Az-Zuhaili menulis dalam kitabnya, At-Tafsir Al-Munir, sebagai berikut:
ثبت عن الإمام الشافعي أنه يسن التكبير بأن يقول «الله أكبر» أو «الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر» عقب قراءة سورة والضحى وخاتمة كل سورة بعدها.
وذكر القراء في مناسبة التكبير: أنه لما تأخر الوحي عن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم وفتر مدة، ثم جاء الملك، فأوحى إليه: {وَالضُّحى، وَاللَّيْلِ إِذا سَجى} السورة بتمامها، كبّر فرحا وسرورا. قال ابن كثير: ولم يرو ذلك بإسناد يحكم عليه بصحة ولا ضعف.[5]
"Telah diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa disunahkan untuk bertakbir dengan mengucapkan 'Allahu Akbar' atau 'Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar' setelah membaca surat Adh-Dhuha dan setiap akhir surat setelahnya.
Para ulama qiraat menjelaskan alasan takbir tersebut: bahwa ketika wahyu terhenti dari Rasulullah SAW dalam waktu yang lama, kemudian malaikat datang dan mewahyukan kepadanya: {WAL-DHUHĀ WA-LAYLI IZA SAJJĀ} (surat Adh-Dhuha secara lengkap), beliau bertakbir karena rasa kegembiraan dan kebahagiaan. Ibn Kathir berkata: 'Namun, tidak ada riwayat yang dapat dijadikan sebagai sanad yang sahih atau lemah mengenai hal ini.'"
Ayat 1 dan 2:
وَٱلضُّحَىٰ ﴿١﴾ وَٱلَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ﴿٢﴾
(1). Demi waktu Dhuḥa (ketika matahari naik sepenggalah).
(2). dan demi malam apabila telah sunyi,
Pada dua ayat ini, Allah bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam. Mengenai makna sumpah ini, setidaknya ada dua pendapat.
Pertama, waktu duha yang dimaksud ayat ini adalah seluruh waktu siang, bukan hanya bersumpah dengan waktu duha saja. Pemaknaan ini menggunakan majaz mursal, yaitu menyebut bagian tertentu dengan maksud keseluruhan.
Pendapat kedua, pemaknaan dengan membuang mudhaf, yang asalnya adalah “demi Tuhan (Allah) Yang Menguasai Waktu Dhuha.[6]
Bukan Al-Qur’an jika tidak indah. Lihatlah bagaimana Allah bersumpah dengan dua waktu sekaligus, yaitu demi waktu siang, khusunya waktu duha dan juga waktu malam ketika sudah sunyi. Mengenai hal ini , mari kita simak komentar Ibnu Asyur tentang hubungan antara siang dan malam mengenai sumpah Allah ini :
ومناسبة القَسَم ب { الضحى } و{ الليل } أن الضحى وقتُ انبثاق نور الشمس فهو إيماء إلى تمثيل نزول الوحي وحصول الاهتداء به ، وأن الليل وقت قيام النبي صلى الله عليه وسلم بالقرآن ، وهو الوقت الذي كان يَسمع فيه المشركون قراءتَه من بيوتهم القريبة من بيته أو من المسجد الحرام .
ولذلك قُيد { الليل } بظَرف { إذا سجى } . فلعل ذلك وقت قيام النبي صلى الله عليه وسلم قال تعالى : { قم الليل إلا قليلاً نصفه أو انقص منه قليلاً } ( المزمل : ٢-٣ )[7]
"Kesesuaian antara sumpah dengan {dhuhā} dan {malam} adalah bahwa dhuhā merupakan waktu munculnya cahaya matahari, yang menunjukkan penurunan wahyu dan penerimaan petunjuk melalui wahyu tersebut, sementara malam adalah waktu ketika Nabi SAW mengerjakan shalat malam dengan Al-Qur'an. Ini adalah waktu ketika orang-orang musyrik mendengar bacaan beliau dari rumah-rumah mereka yang dekat dengan rumah beliau atau dari Masjidil Haram.
Oleh karena itu, kata {malam} dibatasi dengan keterangan waktu {ketika malam gelap}. Mungkin itu adalah waktu ketika Nabi صلى الله عليه وسلم bangun malam. Allah berfirman: {Bangunlah malam, kecuali sedikit, setengahnya atau kurang dari itu sedikit} [Al-Muzzammil: 2- 3]."
Melalui keterangan Ibnu Asyur ini, tentu kita semakin memahami bahwa Q.S. Ad-Duha ini adalah penolakan keras terhadap klaim sebagian kafir Quraisy bahwa Rasulullah telah ditinggalkan oleh Allah karena wahyu tidak turun selama beberapa malam. Mereka berkeyakinan demikian karena mereka tidak mendapati Nabi melakukan salat malam, baik di Masjid Al-Haram atau di rumah beliau. Mereka mengetahui nabi melakukan qiyamul lail adalah dengan mendengar bacaan Al-Qur’an yang beliau baca saat salat.
Melalui ayat pertama dan kedua inilah semakin nampak keindahan Al-Qur’an, yaitu sumpah Allah yang bersesuaian dengan keadaan.
Ayat 3:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ﴿٣﴾
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.”
Ayat ke-3 ini merupakan salah satu muqsam alaih (isi sumpah) untuk menguatkan bahwa Allah tidak sekalipun meninggalkan (tidak peduli) dan tidak pernah sedikitpun membenci Rasulullah SAW. Justru sebaliknya, Allah senantiasa memberikan perhatian, bimbingan, perlindungan dan kecintaan-Nya yang sangat besar kepada Rasulullah SAW.
Ayat ini merupakan bantahan terhadap ejekan dan tuduhan para pembenci Rasulullah SAW karena Jibril AS tidak menjumpai Nabi SAW selama beberapa hari untuk menyampaikan wahyu. Al-Imam Jalaluddin Al-Mahalli menyampaikan keterangan bahwa wahyu sempat tidak turun selama 15 hari.[8]
Ayat 4:
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ ﴿٤﴾
"Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia)."
Isi sumpah berikutnya adalah bahwa kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia. Dengan ayat ini Allah mengingatkan Rasulullah dan umatnya agar berbekal sebanyak mungkin di dunia untuk kehidupan kehidupan akhirat yang sangat panjang. Dunia bukan tidak penting, justru untuk menggapai akhirat, kita harus hidup dan ibadah di alam dunia terlebih dahulu.
Dengan ayat ini juga, kita diingatkan bahwa hidup di dunia yang singkat ini banyak sekali godaan yang dapat menggoyahkan iman seorang muslim. Jika iman sudah runtuh, manusia lebih suka melupakan ibadah dan memperoleh harta dengan cara yang bathil. Rugi sekali jika kehidupan 60 tahun yang begitu singkat ditukar dengan kehidupan milyaran tahun bahkan kekal di akhirat dalam keadaan sengsara.
Di akhirat hanya ada dua pilihan, nikmat atau sengsara, surga atau neraka. Jika penghuni surga diberi makan saat lapar dan diberi minum saat haus, maka begitu juga dengan penghuni neraka. Allah mengabarkan kepada kita tentang makan dan minuman penghuni neraka, yaitu:
إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ ﴿٤٣﴾ طَعَامُ ٱلْأَثِيمِ ﴿٤٤﴾ كَٱلْمُهْلِ يَغْلِى فِى ٱلْبُطُونِ ﴿٤٥﴾ كَغَلْىِ ٱلْحَمِيمِ ﴿٤٦﴾
"Sungguh pohon zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa. Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.” (Q.S. Ad-Dukhan: 43-46).
Ayat 5:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ ﴿٥﴾
"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas."
Isi sumpah berikutnya adalah pernyataan Allah bahwa Dia akan selalu memberikan karunia kepada Rasul-Nya sehingga beliau SAW merasa puas atas karunia itu.
Al-Imam Al-Mawardi menyampaikan bahwa ayat ini memiliki dua kemungkina makna, sebagai berikut:
يحتمل وجهين: أحدهما: يعطيك من النصر في الدنيا، وما يرضيك من إظهار الدين. الثاني: يعطيك المنزلة في الآخرة، وما يرضيك من الكرامة.[9]
“Ada dua kemungkinan makna: pertama, Allah akan memberimu kemenangan di dunia dan sesuatu yang membuatmu ridha berupa penegakan agama. Kedua, Allah akan memberimu kedudukan mulia di akhirat dan sesuatu yang membuatmu ridha berupa kemuliaan.”
Orang yang paling mulia di akhirat adalah baginda Nabi Muhammad SAW. Sehingga untuk ayat ke-5 ini, banyak ulama yang manfisrkan bahwa yang dimaksud dengan puasnya Nabi adalah hak As-Syafa’at Al-Uzhma sebagaimana yang tergambar dalam hadis yang cukup panjang berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بِلَحْمٍ فَرُفِعَ إِلَيْهِ الذِّرَاعُ وَكَانَتْ تُعْجِبُهُ فَنَهَسَ مِنْهَا نَهْسَةً فَقَالَ أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهَلْ تَدْرُونَ بِمَ ذَاكَ يَجْمَعُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَيُسْمِعُهُمْ الدَّاعِي وَيَنْفُذُهُمْ الْبَصَرُ وَتَدْنُو الشَّمْسُ فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنْ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَا لَا يُطِيقُونَ وَمَا لَا يَحْتَمِلُونَ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ أَلَا تَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيهِ أَلَا تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ أَلَا تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ ائْتُوا آدَمَ.
Dari Abu Hurairah dia berkata, "(Kami berada bersama Rasulullah dalam satu undangan), lalu dipersilahkan kepada beliau daging lengan (kambing) -dulu daging ini sangat disukainya- lalu beliau menggigit darinya satu gigitan dan bersabda: "Aku adalah penghulu seluruh manusia pada Hari Kiamat, tahukah kalian kenapa demikian? Allah mengumpulkan seluruh manusia yang terdahulu sampai yang akan datang pada satu dataran tanah, sehingga penyeru dapat memperdengarkan (suaranya) kepada mereka semuanya, dan pandangan dapat melihat mereka, serta matahari mendekat mereka. (Lalu manusia mengalami kesedihan dan kengerian pada batas yang mereka tidak mampu dan sabar menanggungnya), lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, 'Apakah kalian tidak memiliki pendapat tentang keadaan yang kalian hadapi dan yang menimpa kalian ini?! ' Tidakkah kalian memiliki pendapat, siapa yang dapat memberikan syafa'at untuk kalian kepada Rabb kalian? Sebagian lainnya menyatakan (kepada sebagian yang lain), 'Datanglah kepada bapak kalian Adam.”
فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ آدَمُ إِنَّ رَبِّى غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَإِنَّهُ نَهَانِى عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِى اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ.
Kemudian mereka mendatangi (Nabi) Adam. Lalu mereka mengatakan, “Wahai Adam engkau adalah bapak seluruh manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, Dia meniupkan ciptaan ruh-Nya pada dirimu, dan Dia memerintahkan malaikat untuk sujud kepadamu. Berilah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau melihat yang telah menimpa kami?” Lalu Adam mengatakan, ”Sesungguhnya hari ini Rabbku marah dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan marah semisal itu sesudahnya. Dia telah melarangku untuk mendekati sebuah pohon, namun diriku melanggarnya. Pergilah kalian kepada selain aku! Pergilah kalian kepada Nuh ‘alaihis salam!”
فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى الأَرْضِ وَسَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ لَهُمْ إِنَّ رَبِّى قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَإِنَّهُ قَدْ كَانَتْ لِى دَعْوَةٌ دَعَوْتُ بِهَا عَلَى قَوْمِى نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى إِبْرَاهِيمَ.
Lalu mereka mendatangi Nabi Nuh. Kemudian mereka mengatakan, “Wahai Nuh. Engkau adalah rasul pertama yang diutus ke muka bumi. Allah menyebutmu sebagai hamba yang bersyukur. Berilah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau melihat yang telah menimpa kami?” Lalu Nuh mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya pada hari ini Rabbku marah dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan marah semisal itu sesudahnya. Do’a yang kumiliki telah kugunakan untuk mendo’akan kejelekan bagi kaumku. Pergilah kalian kepada Ibrahim!”
فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ نَبِىُّ اللَّهِ وَخَلِيلُهُ مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ لَهُمْ إِبْرَاهِيمُ إِنَّ رَبِّى قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلاَ يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ. وَذَكَرَ كَذَبَاتِهِ نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِى اذْهَبُوا إِلَى مُوسَى.
Lalu mereka mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam. Kemudian mereka berkata, “Engkau adalah Nabi Allah dan kekasih-Nya (kholilullah) dari penduduk bumi. Berilah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau melihat yang telah menimpa kami?” Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, “Sesungguhnya pada hari ini Rabbku marah dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan marah semisal itu sesudahnya.” Lalu beliau menceritakan beberapa kebohongan yang pernah beliau lakukan. Pergilah kalian kepada selainku! Pergilah kalian kepada Musa!”
فَيَأْتُونَ مُوسَى فَيَقُولُونَ يَا مُوسَى أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَضَّلَكَ اللَّهُ بِرِسَالاَتِهِ وَبِتَكْلِيمِهِ عَلَى النَّاسِ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ لَهُمْ مُوسَى -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ رَبِّى قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَإِنِّى قَتَلْتُ نَفْسًا لَمْ أُومَرْ بِقَتْلِهَا نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى عِيسَى.
Lalu mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam. Kemudian mereka berkata, “Engkau adalah utusan Allah yang Allah memuliakanmu lebih dari manusia lainnya dengan risalah-Nya dan Dia berbicara langsung padamu. Berilah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau melihat yang telah menimpa kami?” Lalu Musa berkata kepada mereka, “Sesungguhnya pada hari ini Rabbku marah dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan marah semisal itu sesudahnya. Aku sendiri pernah membunuh seseorang, padahal aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya (seorang pria mesir / Qibthi yang dzolim). Pergilah kalian kepada Isa!”
فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُونَ يَا عِيسَى أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلَّمْتَ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَلِمَةٌ مِنْهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَاشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ لَهُمْ عِيسَى إِنَّ رَبِّى قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ – وَلَمْ يَذْكُرْ لَهُ ذَنْبًا – نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِى اذْهَبُوا إِلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم.
Lalu mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam. Kemudian mereka berkata, “Engkau adalah utusan Allah dan engkau berbicara kepada manusia ketika bayi. Engkau adalah kalimat dari-Nya yang diberikan kepada Maryam dan ruh yang berasal dari-Nya. Berilah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau melihat yang telah menimpa kami?” Lalu Isa berkata kepada mereka, “Sesungguhnya pada hari ini Rabbku marah dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan marah semisal itu sesudahnya. –Lalu beliau tidak menyebutkan adanya dosa yang pernah beliau perbuat-. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kalian kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!”
فَيَأْتُونِّى فَيَقُولُونَ يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ وَخَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَغَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَأَنْطَلِقُ فَآتِى تَحْتَ الْعَرْشِ فَأَقَعُ سَاجِدًا لِرَبِّى ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَىَّ وَيُلْهِمُنِى مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ لأَحَدٍ قَبْلِى.
Lalu mereka mendatangiku. Kemudian mereka mengatakan, “Engkau adalah utusan Allah, penutup para Nabi, Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan akan datang. Berilah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau melihat yang telah tertimpa pada kami?” Kemudian saya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) pergi menuju bawah ‘Arsy. Lalu aku bersujud kepada Rabbku. Kemudian Allah memberi ilham padaku berbagai pujian dan sanjungan untuk-Nya yang belum pernah Allah beritahukan kepada seorang pun sebelumku.
ثُمَّ يُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ اشْفَعْ تُشَفَّعْ. فَأَرْفَعُ رَأْسِى فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى. فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِكَ مَنْ لاَ حِسَابَ عَلَيْهِ مِنَ الْبَابِ الأَيْمَنِ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ وَهُمْ شُرَكَاءُ النَّاسِ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِنَ الأَبْوَابِ وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَا بَيْنَ الْمِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ لَكَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَهَجَرٍ أَوْ كَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَبُصْرَى.
Kemudian ada seorang penyeru yang mengatakan, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan’. Lalu aku mengangkat kepalaku. Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku, umatku.’ Maka dikatakan, ‘Wahai Muhammad, suruhlah umatmu yang tidak dihisab untuk masuk ke surga melalui salah satu pintu surga di sisi kanan sedangkan pintu-pintu yang lain adalah pintu surga bagi semua orang. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Sesungguhnya di antara dua daun pintu di surga, bagaikan jarak Makkah dengan Hajar atau bagaikan jarak Makkah dengan Bashroh. (HR. Muslim).
Ayat 6:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ ﴿٦﴾
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),”_
Ayat 7:
وَوَجَدَكَ ضَآلًّا فَهَدَىٰ ﴿٧﴾
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,”
Ayat 8:
وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَأَغْنَىٰ ﴿٨﴾
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
Tiga ayat di atas (ayat 6, 7, dan 8) memberikan bukti yang jelas dan logis bahwa Allah tidak pernah menelantarkan, meninggalkan, atau membenci Rasulullah SAW (ayat 3). Melalui ayat-ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengingat, merenungi, dan meresapi kembali bahwa kasih sayang Allah kepada beliau tidak hanya dimulai ketika beliau diangkat menjadi Rasul, tetapi jauh sebelum itu.
Sejak dilahirkan, beliau SAW sudah menjadi seorang yatim. Namun, Allah tidak membiarkan beliau sendirian. Pada masa itu, anak-anak yatim sering kali terpinggirkan, menjadi golongan yang lemah dan terlupakan karena kurangnya perlindungan dari kerabat atau lingkungan sekitar. Bukankah kita ingat dengan apa yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Ma’un yang pernah kita bahas di halaqah ini? Di zaman itu, anak yatim sering dianggap sebagai beban, tak dihargai, dan dianggap tak memiliki martabat.
Namun, Rasulullah SAW tidak pernah mengalami perlakuan seperti itu. Meskipun sejak lahir beliau adalah seorang yatim, Allah menjaga dan melindungi beliau melalui asuhan dari sang kakek, Abdul Muthalib. Ketika sang kakek wafat, asuhan beliau berpindah kepada pamannya, Abu Thalib. Dengan kasih sayang dan perlindungan dari dua tokoh Quraisy ini, tidak ada seorang pun yang berani mengusik kehormatan dan martabat Rasulullah SAW.
Begitu pula dengan ayat ke-7, di mana Rasulullah SAW diajak oleh Allah untuk merenungi betapa besar kasih sayang-Nya kepada beliau. Beliau lahir dan tumbuh di tengah masyarakat yang sangat kental dengan kesyirikan. Namun, dengan kasih sayang Allah, selama 40 tahun hidupnya (sebelum diangkat menjadi nabi), tak sekalipun beliau terjerumus ke dalam kemusyrikan yang lazim dilakukan oleh kaumnya. Apakah kita ingat bahwa Rasulullah SAW sering mengasingkan diri di Gua Hira? Beliau berusaha menjauhkan diri dari penyembahan berhala dan merenungi perbuatan kaumnya yang begitu keliru. Tentunya, pada saat itu, beliau belum memahami petunjuk sempurna seperti halnya ajaran syariat, iman, dan petunjuk lainnya, karena Al-Qur'an belum diturunkan. Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah memberikan petunjuk yang sempurna melalui Al-Qur'an sejak beliau diangkat menjadi nabi dan rasul.
Dalam ayat ke-8, Allah kembali menegaskan bahwa Rasulullah SAW selalu mendapat pertolongan dan perlindungan dari kesulitan harta, terutama di saat-saat yang sangat dibutuhkan. Dalam bukunya, Aisyah Bintu Syati’ mengungkapkan bagaimana Rasulullah SAW tidak pernah mengalami kesulitan harta. Beliau menunjukkan contoh nyata bahwa Allah senantiasa memberikan pertolongan-Nya dengan cara yang penuh rahmat, sebagai berikut:
ان الله تعالى أغناه فى صباه بتربية ابى طالب, و لما اختلت أحواله أغناه بمال خديجة, و لما اختل ذلك أغناه بمال أبى بكر, و لما اختل ذلك أمره بالهجرة و أغناه بإعانة الأنصار, ثم أمره باجهاد و أغناه بالغنائم.[10]
“Sungguh, Allah SWT mensejahterakan beliau (Muhammad SAW) di masa kecilnya dengan asuhan dan didikan Ab Thalib. Ketika keadaan beliau sulit, Allah mencukupkannya melalui harta Khadijah. Dan di saat sulit juga, Allah mencukupkannya dengan (bantuan) harta Abu Bakar. Dan di saat mengalami kesulitan (di Makkah), Allah memrintahkan beliau berhijrah, lalu Allah mencukupkan beliau melalui pertolongan kaum Anshar. Dan kemudian Allah memerintahkan beliau berjihad dan tentunya mencukupkan beliau dengan perolehan hak ghanimah.”
Ayat 9:
فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ ﴿٩﴾
“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
Ayat 10:
وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنْهَرْ ﴿١٠﴾
"Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya)."
Ayat 11:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ﴿١١﴾
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)."
Melalui ayat-ayat ini, Allah mengingatkan kepada kekasih-Nya, Muhammad SAW agar tidak berlaku sewenang kepada anak yatim, karena sesunggunhnya beliau pernah berada di posisi tersebut di masa kecilnya.
Begitu pun terhadap pengemis, Rasulullah SAW diingatkan agar berlaku santun. Seandainya Allah tidak mencukupi kebutuhan beliau, tentu beliau mengalami kemiskinan dan berpontensi menjadi pengemis.
Karena besarnya kasih sayang, perlindungan dan pertolongan Allah kepada beliau SAW. maka hendaklah beliau selalu menjadi hamba yang bersyukur dan mengajarkannya kepada seluruh pengikutnya.
Wallahu A’lam.
Foto : Freepik
-------------
[1] Abu Amr Ad-Dani, Al-Bayan Fi Add I Ayil Qur’an, Markaz Al-Makhtuthat WaAt-Turats Wa Al-Watsa’iq, Kuwait, 1414 H, Hal. 277.
[2] Isham Ibn Abd Al-Muhsin Al-Humaidan, As-Shahih Min Asbab An-Nuzul, Muassasah Ar-Rayyan, Beirut, Cetakan Pertama, 1420 H,/1999 M, Hal. 342.
[3] ] Muslim Ibn Hajjaj, Shahih Muslim, Dar Thaybah Lin-Nasyr Wat-Tauzi’, Riyadh, Cetakan Pertama, 1427 H/2006 M, Hal. 865.
[4] Manna’ Al-Qathhan, Mabahits Fi Ulum Al-Qur’an, Maktabah Wahbah, Cairo, t.t. Hal. 287.
[5] Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir Fi Al-Aqidah, Was-Syariah Wal-Mahaj, Dar Al-Fikr, Beirut, Cetakan Ke-10, 1430 H/2009 M, Juz 30. Hal. 666.
[6] Lihat Tafsir Hada’iq Ar-Ruh Wa Ar-Rayhan Fi Rawabi Ulum Al-Qur’an karya Al-Allamah Muhamad Al-Amin Ibn Abdillah Al-Urami Al-Alawi Al-Harari As-Syafi’I, Dar Thauq An-Najah, Beirut, 1421 H/2001 H, Juz 32, Hal. 85.
[7] ] Ibn Asyur, Muhammad At-Thahir, Tafsir At-Tahrir Wa At-Tanwir, Ad-Dar At-Tunisiyah Lin Nasyr, 1984, Juz 30, Hal. 395.
[8] Lihat Tafsir Al-Jalalain, Dar Nasyr Al-Mishriyah, Surabaya, t.t. Hal. 503.
[9] Al-Mawardi, Ali Ibn Muhammad, An-Nukat Wa Al-Uyunm Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, t.t. juz 6, Hal. 293.
[10] Aisyah Abdurrahman Bint Syathi’, At-Tafsir Al-Bayani Lil Qur’an Al-Qur’an Al-Karim, Dar Al-Ma’arif, Maroko, Cetakan ke-7, 1990 M, Juz 1, Hal.47.