Sucikanlah Nama Tuhanmu!

Dalam menjalani kehidupan, seringkali kita lupa dan lalai terhadap nikmat dan ketentuan Allah. Tadabbur adalah upaya nyata untuk kembali ingat akan kebesaran Allah SWT. Yuk, sejenak kita bertadabbur melalui tulisan berikut!

Da'i Ambassador

Merenungi (tadabur) ayat-ayat Al-Qur’an adalah sebuah kenikmatan yang tiada tara bagi setiap hati yang rindu akan kedamaian dan petunjuk dari Sang Pencipta. Bukan hanya sekadar memahami makna tekstual ayat-ayat-Nya, tetapi tadabur adalah sebuah perjalanan batin yang membawa kita untuk menyadari betapa lemah dan terbatasnya kita di hadapan kebesaran Allah SWT. Dalam proses ini, kita diajak untuk merendahkan hati dan membiarkan setiap kata dari-Nya menembus kedalaman jiwa.

Tadabur itu luas, penuh dengan hikmah yang tak terhitung jumlahnya. Pada kesempatan ini, mari kita sejenak merenungi kebesaran Allah melalui tasbih, yaitu mensucikan nama-Nya dari segala kelemahan. Tasbih bukan hanya sebuah lafaz, melainkan sebuah pengakuan tulus dari hati yang menyadari kesucian Allah yang Maha Suci. Dalam setiap tasbih yang kita ucapkan, terkandung makna yang mendalam  dan juga sebuah pengingatan akan kekuasaan dan keagungan-Nya yang tak terjangkau oleh akal manusia.

Untuk memudahkan pemahaman kita, tulisan ini akan menyederhanakan tafsir dari Q.S. Al-A’la ayat 1-5, dengan harapan agar pembahasan ini tetap mengalir dengan penuh keindahan dan kekhidmatan.

Ayat 1:

سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَى.

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.”

Dalam ayat yang penuh kemuliaan ini, Allah memerintahkan kepada Rasulullah dan kita semua untuk senantiasa mensucikan nama-Nya dari segala kekurangan. Ini adalah panggilan untuk melepaskan segala anggapan buruk tentang Allah, dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Sempurna, tanpa sedikit pun celah kelemahan. Allah adalah Al-A'la, Tuhan Yang Maha Tinggi, yang tidak ada satu pun makhluk di alam semesta ini yang sederajat dengan-Nya, apalagi mengungguli ketinggian, kehormatan, dan kemulian-Nya yang tak terhingga.

Selain makna tasbih (mensucikan Allah dari segala kelemahan), ayat ini juga mengandung makna Ta'zhim, yaitu pengagungan. Maka, kita bisa menafsirkan ayat ini dengan penuh kesadaran bahwa kita diperintahkan untuk "Agungkanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."[1] Dengan demikian, kita dapat menggabungkan dua makna mulia ini dalam setiap lafaz yang kita ucapkan, yaitu "Sucikanlah dan agungkanlah nama Tuhan-Mu Yang Maha Tinggi."

Hikmah yang terkandung dalam keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Suci mengajarkan kita untuk senantiasa percaya dan berharap hanya kepada-Nya. Jika kita benar-benar meyakini kesucian Allah, maka kita akan merasakan:

  1. An-Nashir (Maha Penolong), yang tidak ada satupun penolong di dunia ini yang dapat menyamai kekuatan-Nya.
  2. Al-Mujib, Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa, di mana setiap harapan dan permohonan kita pasti didengar oleh-Nya.
  3.  Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki, yang memberi segala bentuk rezeki y ang tak terbatas, dan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
  4. Dan seluruh Al-Asma' Al-Husna (nama-nama yang paling indah) yang dimiliki oleh Yang Maha Indah, Allah SWT, yang tidak hanya memenuhi setiap kebutuhan kita, tetapi juga memperindah hidup kita dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Ayat ini menjadikan perintah agar kita membaca tasbih Subhana Rabbiyal A’la dalam sujud, sebagaimana hadis:

عَنْ مُوسَى بْنِ أَيُّوبَ الْغَافِقِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَمِّي إِيَاسَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ يَقُولُ لَمَّا نَزَلَتْ { فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ } قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ فَلَمَّا نَزَلَتْ { سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى } قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلُوهَا فِي سُجُودِكُمْ.

“Dari Musa bin Ayyub Al Ghafiqi] berkata: Aku mendengar Iyas bin Amir berkata: Aku mendengar Uqbah bin Amir Al Juhani berkata: "Ketika turun ayat: {Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi} (Al A'la: 1), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada kami: "Lakukanlah itu dalam sujud kalian." (HR. Ibn Majah, Ad-Darimi dan Ahmad).”

Catatan: hadis ini bukan menjadi asbabun nuzul Q.S. Al-A’la. Justru karena turunnya surat Al-A’la, hadis ini menjadi perintah untuk membaca bacaan sujud seperti yang kita baca  sampai saat ini.

Ayat 2:

الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۖ.

“Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya).”

Ayat ini dengan tegas mengungkapkan kesucian dan keagungan Allah SWT, mengingatkan kita bahwa Tuhan haruslah berbeda dengan makhluk-Nya. Allah adalah Tuhan yang Maha Menciptakan dan Maha Menyempurnakan segala ciptaan-Nya. Menciptakan artinya mengadakan sesuatu yang tadinya tiada menjadi ada, sebuah karya yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, Sang Pencipta.

Makhluk tidak bisa menciptakan, mereka hanya mampu berkreasi. Sebagai contoh, manusia membangun gedung bukan dengan menciptakan, tetapi dengan membuat. Mereka menggunakan bahan yang sudah ada, seperti semen, besi, paku, dan material lainnya, yang disusun dan dirangkai dengan kreativitas mereka untuk membentuk suatu bangunan. Tetapi, Allah—Al-Khaliq—berbeda. Dia menciptakan segala sesuatu dari ketidakadaan menjadi ada. Ciptakanlah sesaat saja, dan kita akan menemukan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menciptakan, bahkan sehelai rambut asli.

Renungkanlah, bagaimana alam semesta ini bisa ada? Tak mungkin semuanya hadir begitu saja tanpa adanya kuasa dari-Nya. Dalam penciptaan-Nya, Allah tidak pernah gagal. Dia adalah Pencipta yang menyempurnakan setiap ciptaan-Nya tanpa cacat. Sementara kita, makhluk-Nya, hanya bisa berkreasi dengan segala keterbatasan, dan sering kali hasilnya tidak sempurna. Lihatlah, betapa banyaknya karya manusia yang mengalami kegagalan—produk gagal, proyek yang tidak sesuai harapan. Itulah keterbatasan kita, yang begitu berbeda dengan sempurnanya karya Allah.

Allah menciptakan dan menyempurnakan tanpa cela, sehingga segala yang ada di alam ini berfungsi dengan begitu harmonis. Kita hanya bisa mengagumi dan bersyukur atas kebesaran-Nya yang tiada tara.

Mengenai ayat ini, ada baiknya kita simak penjelasan salah satu mufassir kotemporer berikut:

أي الذي خلق الكائنات جميعًا، فسوى خلقها، وجعلها متسقة محكمة، ولم يأتِ بها متفاوتة غير ملتئمة دلالة على أنها صادرة عن عالم حكيم مدبر، أحسن تدبيرها فأحكم أسرها.[2]

"Dialah yang menciptakan seluruh makhluk, lalu menyempurnakan penciptaannya, menjadikannya serasi dan teratur dengan kokoh. Ia tidak menciptakannya dalam keadaan tidak selaras. Hal itu menjadi bukti bahwa semuanya berasal dari Zat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana dalam mengatur, yang mengatur dengan sebaik-baiknya sehingga setiap ciptaan-Nya tersusun dengan sempurna."

Ayat 3:

وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۖ.

 “Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” 

Allah SWT kembali mengingatkan kita akan salah satu tanda kebesaran-Nya yang tak terhingga. Bukan hanya menciptakan makhluk dengan bentuk yang presisi dan sempurna, tetapi Dia juga yang menentukan kadar dan ukuran dalam tubuh setiap makhluk dengan keseimbangan yang luar biasa. Lihatlah betapa Allah mengatur darah dalam tubuh kita. Jika kadar darah dalam tubuh kita berkurang atau berlebih, maka tentu saja tubuh kita akan mengalami gangguan. Begitu pun dengan cairan-cairan lain yang ada di dalam tubuh kita—urine, keringat, air liur, air mata, cairan limpa, cairan serebrospinal pada otak atau tulang belakang, dan cairan synovial pada sendi—semua itu ditentukan dengan keseimbangan yang sangat sempurna.

Subhanallah! Allah bukan hanya قَدَّرَ (menentukan kadar dengan tepat), tetapi Dia juga هَدَى (memberi petunjuk) kepada setiap ciptaan-Nya untuk berjalan sesuai takdir-Nya yang indah. Dalam konteks tubuh manusia, bukan hanya ukuran cairan-cairan tersebut yang seimbang, tetapi Allah juga memerintahkan agar setiap cairan itu bekerja sesuai dengan fungsinya yang sangat alami. Kapan air mata harus keluar, kapan urin atau keringat bekerja, semuanya terjadi sesuai dengan peraturan-Nya yang sangat harmonis dan penuh kebijaksanaan, yang sering kali kita abaikan tanpa kita sadari. ما شاء الله.

Renungkanlah sejenak! Sejak kita berada dalam kandungan ibu, Allah telah mengatur keseimbangan tubuh kita dengan begitu sempurna, hingga saat ini, tanpa kita perlu mencampuri-Nya. Betapa banyak nikmat yang kita terima—nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Namun, kita sering kali lebih banyak mengeluh dan kurang bersyukur. Tidakkah kita merasa malu, bahwa dengan segala kesempurnaan yang diberikan-Nya, kita masih sering terperosok dalam kelalaian dan ketidakbersyukuran? Entah berapa milyar nilai yang harus kita bayar jika harus menghargai Nikmat-nikmat Allah ini. Namun, apa yang kita lakukan? Kita sering kali terjebak dalam keluhan, bukannya bersyukur.

Sudahlah! Mari kita berhenti sejenak dan merenung. Betapa Allah telah memberikan nikmat-Nya dengan begitu sempurna dan begitu penuh kasih sayang. Marilah kita mengingat-Nya lebih sering, mensyukuri setiap detik kehidupan yang telah Dia atur dengan sangat indah.

Untuk menutup bahasan ayat ini, mari kita renungkan salah satu pesan Rasulullah SAW berikut ini, wahai para pelupa!

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الَّلهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الَّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَشِيْرٌ مِنْ النَّاَسِ الصِّحَّةُ وَاْلفَرَاغُ.

“Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Nabi SAW bersabda : “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu." [HR Bukhari, At-Tirmidzi, Ibn Majah, Ad-Darimi dan Ahmad).

Ayat 4: 

وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰىۖ.

"Dan yang menumbuhkan (rerumputan) padang gembala.” 

Ayat 5: 

فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۖ.

 “Lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman.”

Allah SWT menciptakan segala sesuatu dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan, termasuk setiap makhluk-Nya dan segala sarana kehidupan yang menopangnya. Di alam ini, terdapat beragam makhluk—herbivora (pemakan tumbuhan), karnivora (pemakan daging), dan omnivora (pemakan segala, seperti kita, manusia). Semua ini merupakan bagian dari siklus kehidupan yang berjalan dengan penuh keharmonisan dan keseimbangan yang sempurna.

Melalui ayat ini, Allah kembali menunjukkan kebesaran-Nya yang luar biasa. Dia mengingatkan kita bahwa Dia-lah yang menumbuhkan tumbuhan dan rerumputan di padang gembala, sebagai sarana bagi hewan-hewan pemakan tumbuhan untuk hidup dengan mudah. Allah yang menumbuhkan rumput yang hijau dan segar di padang luas, tanpa kita perlu repot menanamnya. Tugas kita hanyalah memelihara makhluk-makhluk tersebut, yang akhirnya memberi manfaat bagi kehidupan kita—baik daging, susu, ataupun hasil lainnya. Begitulah cara Allah mempermudah kehidupan kita di dunia ini.

Ayat ini juga mengingatkan kita akan teratur dan sempurnanya siklus kehidupan yang Allah ciptakan. Setiap makhluk menjalankan perannya sesuai dengan takdir-Nya, dalam keharmonisan yang tak terpisahkan. Herbivora tidak pernah memakan karnivora, dan sebaliknya, karena masing-masing makhluk memiliki peran yang telah ditentukan dengan sangat sempurna. Alam semesta ini seolah berbicara tentang keseimbangan yang tak terbantahkan. Sebagai manusia, kita diberi anugerah akal yang memungkinkan kita berada di puncak rantai makanan. Allah memberikan kemampuan bagi kita untuk mengonsumsi baik karnivora maupun herbivora. Bahkan, kita dimudahkan untuk menikmati segala makanan ini dengan cara yang lebih nikmat, yaitu melalui proses memasak dengan bumbu dan rempah yang menjadikan kehidupan kita lebih berwarna dan penuh kenikmatan. Tiada alasan bagi kita untuk mengingkari segala nikmat yang Allah berikan.

Namun, setelah mengingatkan kita akan segarnya kehidupan yang Allah ciptakan, Allah juga mengingatkan kita bahwa tiada yang kekal di dunia ini kecuali Dia yang Maha Kekal. Rumput yang semula hijau dan segar akan mengering, berubah warna menjadi hitam seiring berjalannya waktu. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa segala sesuatu di dunia ini, termasuk tubuh kita, tidak akan abadi. Manusia yang dahulu muda, tampan, cantik, cerdas, penuh tenaga, dengan kulit mulus dan pendengaran yang tajam, akan mengalami perubahan. Pada akhirnya, tubuh yang gagah akan dipenuhi uban, keriput, dan ingatan yang memudar.

Ingatlah, wahai manusia! Padang rumput tidak selamanya hijau. Ia akan kering dan menghitam, namun dengan izin Allah, ia akan tumbuh kembali menjadi hijau yang segar. Begitu pula dengan kehidupan kita. Kita yang semula lahir dengan penuh harapan, pada akhirnya akan menua dan kembali kepada-Nya. Setelah mati, kita akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatan kita. Kegagahan, kesombongan, dan kekayaan tidak akan bertahan selamanya. Semua itu akan hilang seiring berlalunya waktu di dunia ini. Namun, ingatlah! Akibat dari kesombongan yang kita tanamkan dalam diri kita akan terus mengikuti kita sampai hari pembalasan di akhirat nanti.

Ayat ini sejalan dengan firman Allah berikut:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Q.S. Al-Hadid: 20).

Wallahu A’lam.

__________

[1] Lihat Al-Lubab Fi Ulumil Kitab, Ali Ibn Adil Ad-Dimasyqi Al-Hambali, Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1419 H, Juz 20,Hal. 272.

[2] Muhammad Al-Amin Al-Alawi Al-Harari, Tasir Hadaiq Ar-Ruh Wa Ar-Raihan, Dar A-Thauq An-Najah, Beirut, Cetakan Pertama 1421 H/2001 M, Juz 31, Hal. 347.

Bagikan Konten Melalui :