Seni Berkomunikasi Dalam Al-Qur’an
Apakah ada isyarat Seni Berkomunikasi Dalam Al-Qur'an? Simak artikel berikut dengan penuh kesabaran!
Al-Qur’an bukanlah kitab yang hanya diturunkan untuk para ilmuwan, bukan pula semata-mata untuk sejarah, hukum, atau ilmu lainnya. Ia adalah petunjuk hidup laksana cahaya yang menyinari perjalanan umat manusia dalam gelapnya dunia ini. Sebagai wahyu dari Allah, isi Al-Qur’an pasti tak pernah salah, selalu benar, dan abadi kebenarannya. Semua petunjuk-Nya terhampar dalam beragam bentuk, diantaranya:
- Ibadah yang menghubungkan hati dengan Sang Pencipta.
- Syariah yang memandu langkah hidup.
- Sejarah yang mengajarkan kita tentang waktu dan hikmah.
- Akhlak yang memperindah jiwa dan raga
- Ilmu yang membuka cakrawala semesta
- Spiritualitas yang menuntun jiwa menuju kedamaian.
Semua itu disampaikan dengan gaya bahasa Arab yang penuh keindahan dan memukau, begitu sempurna, mengalir lembut di dalam kalbu, sangat menyentuh dan meresap hingga ke relung hati yang terdalam.
Pada kesempatan ini, penulis hanya akan menyajikan satu dari ribuan contoh yang menggambarkan bagaimana Al-Qur’an mengisahkan percakapan penuh makna antara Nabi Yusuf AS dengan dua pemuda penghuni penjara yang sama saat beliau berada di dalam penjara karena menjadi korban tuduhan keji. Percakapan mereka berkisah tentang takwil mimpi yang mereka ajukan kepada Nabi Yusuf AS, yang penuh dengan hikmah dan petunjuk.
Peristiwa bersejarah ini diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Yusuf ayat 36-41. Agar lebih mudah dipahami, marilah kita simak ayat-ayat tersebut satu per satu, dengan penuh kesabaran dan ketenangan. Semoga setiap kata yang tertulis dapat menyentuh hati dan membuka wawasan kita.
Ayat 36:
وَدَخَلَ مَعَهُ ٱلسِّجْنَ فَتَيَانِ قَالَ أَحَدُهُمَآ إِنِّىٓ أَرَىٰنِىٓ أَعْصِرُ خَمْرًا وَقَالَ ٱلْءَاخَرُ إِنِّىٓ أَرَىٰنِىٓ أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِى خُبْزًا تَأْكُلُ ٱلطَّيْرُ مِنْهُ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِۦٓ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلْمُحْسِنِينَ ﴿٣٦﴾
“Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, "Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur," dan yang lainnya berkata, "Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung." Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.” (Q.S. Yusuf: 36).
Dua pemuda yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut adalah dua jiwa yang terjerat dalam takdir yang kelam. Yang satu adalah mantan penyuguh minuman raja, yang lainnya adalah pembuat makanan raja. Keduanya terkurung dalam penjara, terhukum karena terlibat dalam penyelidikan yang penuh misteri, menyelidiki siapa diantara mereka berdua yang berupaya meracuni sang raja. Dalam kesendirian dan kegelapan penjara, mereka terbangun di tengah malam, berulang kali dihantui mimpi yang penuh tanda tanya. Pembuat minuman bermimpi memeras anggur dan menjadikannya sebagai minuman untuk sang raja. Sedangkan pembuat makanan, ia bermimpi menaruh roti di atas kepalanya lalu roti tersebut dimakan oleh burung gagak. Mimpi-mimpi itu datang bagaikan bisikan penuh arti yang mereka rasa harus diungkapkan. Dan mereka pun mencari arti sejati di baliknya.
Dalam pencarian itu, mereka menemui sosok yang berbeda dari yang lain, seorang narapidana yang dihormati karena kebijaksanaannya yang tak lain adalah Nabi Yusuf AS. Beliau adalah korban dari fitnah keji yang dihembuskan oleh Zulaikha, istri pembesar Mesir yang merusak hidupnya dan membawanya ke dalam penjara yang sempit. Namun, dalam kekalahan dan keterasingan, Nabi Yusuf tidak hanya membawa ketenangan, tetapi juga cahaya yang mampu menerangi jalan seluruh penghuni penjara.
Namun, Nabi Yusuf tidak serta merta memberikan jawaban. Beliau ingin kedua pemuda itu melihat dan menyaksikan sendiri keajaiban yang lebih besar, sebuah mukjizat yang akan menjadi bukti bahwa takwil yang akan beliau sampaikan bukanlah sekadar kata-kata belaka, tetapi sebuah kebenaran yang datang dari Allah. Dalam perjalanan mereka untuk mencari makna, Nabi Yusuf ingin mereka merasakan bahwa takdir yang terlukis dalam mimpi itu bukan hanya sebuah ramalan, tetapi petunjuk yang telah ditentukan dengan sempurna oleh Yang Maha Kuasa. Simak ayat berikutnya:
Ayat 37:
قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِۦٓ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِۦ قَبْلَ أَن يَأْتِيَكُمَا ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِى رَبِّىٓ إِنِّى تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَهُم بِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ كَٰفِرُونَ ﴿٣٧﴾.
“Dia (Yusuf) berkata, "Makanan apa pun yang akan diberikan kepadamu berdua aku telah dapat menerangkan takwilnya, sebelum (makanan) itu sampai kepadamu. Itu sebagian dari yang diajarkan Tuhan kepadaku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka tidak percaya kepada hari akhirat.”
Maksudnya adalah Nabi Yusuf As mengetahui makanan apakah yang akan dihidangkan kepada mereka berdua nantinya. Seperti apa lauk-pauknya, bagaimana rasanya dan seterusnya.
Ada pula tafsiran lain yang menggugah, bahwa Nabi Yusuf, dengan anugerah Ilahi, mengetahui bukan hanya jenis makanan yang akan dihidangkan, tetapi juga kemungkinan bahaya tersembunyi yang mengintai di baliknya. Pada masa itu, saat seorang raja ingin menyingkirkan seorang tahanan, ia akan memerintahkan juru masak penjara untuk mencampurkan racun ke dalam hidangan yang diberikan. Namun, Nabi Yusuf tahu lebih banyak. Dengan kehalusan budi dan ketajaman ilmunya, ia menyampaikan takwil yang tak hanya menggugah, tetapi membangkitkan keyakinan dalam hati kedua pemuda itu. Mereka pun sadar, bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Yusuf bukan sekadar perkataan, melainkan sebuah kebenaran yang datang dari langit.
Dengan penuh ketegasan, Nabi Yusuf AS mengingatkan mereka bahwa kemampuannya dalam menakwilkan mimpi dan menyelami seluk-beluk dunia ini bukan berasal dari ilmu gelap atau kekuatan jahat. Ia bukanlah seorang peramal yang dibimbing oleh setan atau jin, melainkan seorang hamba yang diberikan ilmu langsung oleh Sang Pencipta. Dalam kata-katanya, ada kejujuran yang menembus relung hati, yang menggetarkan jiwa-jiwa yang telah lama terperangkap dalam kegelapan.
Pada saat itu, di antara jeruji penjara yang membatasi kebebasan, Nabi Yusuf memanfaatkan kesempatan untuk menyebarkan cahaya kebenaran. Ia tidak hanya berbicara tentang takwil mimpi, tetapi juga mengajak dua pemuda tersebut dan semua yang ada di dalam penjara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa. Ia mengajak mereka untuk mengikuti agama yang benar, agama yang sudah lama dipegang oleh nenek moyangnya, Nabi Ishak dan Nabi Ibrahim AS. Agama yang tidak mengajarkan penyembahan kepada berhala atau dewa-dewa yang tak pernah mampu memberikan apa pun selain kesia-siaan. Di balik kata-kata Nabi Yusuf, tersembunyi harapan yang membara, bahwa meski mereka terkurung dalam dinding penjara, jiwa mereka bisa bebas—bebas dalam cahaya iman yang sejati.
Ayat 39 dan 40:
يَٰصَىٰحِبَىِ ٱلسِّجْنِ ءَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّارُ ﴿٣٩﴾
“Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa?”
مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءً سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَٰنٍ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٤٠﴾
“Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Melalaui dua ayat di atas, Allah mengisahkan bahwa Nabi Yusuf AS mengajak dua pemuda dan seluruh penghuni penjara agar menyadari kekeliruan mereka karena mengikuti agama nenek moyang mereka yang sesat, yaitu menyembah banyak tuhan yang berbeda satu sama lain, baik berbahala ataupun dewa-dewa hasil halusinasi mereka sendiri. Tuhan yang benar hanyalah Allah Al-Wahid Al-Qahhar (Yang Maha Tunggal dan Maha Perkasa).
Setelah menyadari kekeliruan dan kebodohan, akhirnya dua pemuda dan para penghuni penjara mengikuti ajaran Nabi Yusuf AS, menyembah Allah SWT.
Nah, setelah itu, barulah Nabi Yusuf menyampaikan takwil mimpi yang mereka minta. Karena dua pemuda tadi sudah masuk Islam, mereka siap menerima ketetapan Allah, qada dan qadar dari Allah, baik atau buruk. Bagi yaang menerima takdir yang tidak diinginkan, ia tidak akan menyesal dan malah justru bersyukur, mati dalam keadaan Islam karena mengikuti ajaran nabi Yusuf AS. Simak ayat berikut:
Ayat 41:
يَٰصَىٰحِبَىِ ٱلسِّجْنِ أَمَّآ أَحَدُكُمَا فَيَسْقِى رَبَّهُۥ خَمْرًا وَأَمَّا ٱلْءَاخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ ٱلطَّيْرُ مِن رَّأْسِهِۦ قُضِىَ ٱلْأَمْرُ ٱلَّذِى فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ ﴿٤١﴾
“Wahai kedua penghuni penjara, "Salah seorang di antara kamu, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi dia akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku)."
Nabi Yusuf As mengatakan bahwa salah satu diantara kamu akan bebas dan menjalankan tugas seperti sebelumnya, membuat minum atau menyediakan minuman khamer kepada sang Raja. Dia akan bebas 3 hari lagi. Nabi Yusuf tidak menyebut “Engkau atau Anda” tetapi menggunakan kata ganti orang ke-3. Hal ini menggambarkan begitu mulianya akhlak Nabi Yusuf As. Beliau tidak ingin menyakiti perasaan salah satu pemuda yang akan mendengar ta’wil buruk bagi dirinya, yaitu mantan pembuat makanan raja bahwa tiga hari kemudian, dia akan disalib sampai mati dan burung akan memakan bangkainya di sebagian kepala. Nabi Yusuf menegaskan bahwa takwil tersebut merupakan takdir yang sudah diputuskan oleh Allah dan tidak bisa ditolak atau dihindari.
Inti dari tulisan kali ini bahwa ternyata Al-Qur’an secara tidak langsung mengajarkan kepada kita tentang SENI BERKOMUNIKASI!
Andaikan saja nabi Yusuf AS langsung menjawab takwil mimpi dua pemuda, tidak mau mengatur pola komunikasi, ini kemungkinan yang terjadi:
- Sang penanya akan mendebat Nabi Yusuf karena mereka menilai takwil tersebut hanyalah karangan belaka, apalagi nantinya salah satu diantara mereka akan mati mengenaskan.
- Jika ini yang terjadi, bisa saja mereka tidak bisa menyaksikan mukjizat Nabi Yusuf menakwilkan hidangan yang akan disajikan kepada mereka.
- Karena mereka kontra dengan nabi Yusuf, akhirnya mereka tidak mau menerima dakwah dan mati dalam kondisi yang masih kafir dan syirik.
Hikmah luar biasa:
- Boleh bertanya arti mimpi kepada hamba Allah yang saleh yang memang Allah berikan kemampuan untuk itu. Zaman sekarang sangat sulit memperoleh orang yang dipercaya mempunyai kemampuan seperti ini
- Gunakanlah bahasa yang baik dan halus untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Lihat juga kondisi psikis orang yang akan dinasihati.
- Walaupun boleh bertanya arti mimpi, sebaiknya hindari saja. Jika bermimpi baik boleh bergembira dan menceritakannya kepada orang kita percaya dan apabila bermimpi buruk, bangunlah segera dan meludahlah ke sebelah kiri. Menurut hadis Rasulullah SAW mimpi ada tiga, bawaan perasaan sebelum tidur, godaan syaitan atau kabar gembira dari Allah.
Wallahu Alam.
--------------
Foto : Magnific
Referensi:
- Tafsir Mahasin At-Ta’wil Lil Qasimi
- Mafatih Al-Ghaib, Tafsir Al-Fakhr Al-Razi
- Ma’alim At-Tanzil, Tafsir Al-Baghawi
- Tafsir Jalalain
- Qashash Al-Anbiya Libni Katsir Ad-Dimasyqi
- Hayatu Yusuf AS Li Mahmud Syalabi