
Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, setiap mukmin berpuasa dianjurkan untuk semakin konsentrasi dalam beribadah. Demikian salah satu pesan Nabi Muhammad dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Dari Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 ramadhan terakhir beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah”. Ibarat orang ikut lomba lari marathon, semakin mendekati garis finis, maka dia akan semakin kencang dalam berlari, seluruh tenaganya dikeluarkan untuk mencapai garis penghabisan bahkan berazam menjadi sang pemenang. Begitu juga seyogyanya, bagi mukmin berpuasa harus mengencangkan ikat tali, mengatur ritme nafas dan berazam untuk fakus beribadah dimalam-malam terakhir bulan ramadhan terlebih malam ganjil.
Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa disepuluh hari terakhir ini, Allah menjanjikan kebaikan yang kebaikan tersebut nilainya tak terhingga yaitu malam
al-Qadr. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qadr: 3
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Disebut malam a-Qadr paling tidak memiliki dua makna;
Pertama, menurut Ali Asshabuny dinamakan malam
al-Qadr karena kemuliaan malam tersebut mengalahkan kemulian malam, hari dan bulan yang lain. Di malam tersebut Allah tunjukkan keagungan, kesucian dan kelembutanNYA sebagai tanda bukti kemuliaan turunnya al-Quran, sebagaimana ungakapan orang Arab
fulan dzu qadrin ‘adzim (fulan punya kemuliaan nan agung).
Kedua, al-Qadr bermakna ketetapan
(taqdir) dimana pada malam tersebut Allah menurunkan ketetapanNYA tentang kehidupan, kematian dan rizki. Pendapat yang kedua ini merujuk pada firman Allah dalam surat al-Dukhan: 3-4
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. Dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”.
Salam Damai Malam
al-Qadr
Selain malam
al-Qadr adalah malam kemuliaan akan tetapi malam tersebut juga membawa misi malam perdamaian
(salam), dimana ayat ke lima dari surat
al-Qadr tersebut diakhiri dengan kata
salamun yang berarti keselamatan, perdamaian dan ketentraman. Pesan perdamaian ini menjadi isyarat bahwa untuk mendapatkan malam
al-Qadr meskipun bersifat privasi akan tetapi dampak dari kemuliaan malam tersebut harus bisa dirasakan oleh banyak orang yaitu menciptakan perdamaian dan keselamatan. Menurut
al-Sa’dy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata
salam berarti keselamatan dari setiap kejahatan dan mara bahaya yang demikian itu dikarenakan melimpahnya kebaikan dan kedamaian. Keselamatan dan perdaiaman yang dimaksud pada penutup surat
al-Qadr tersebut tentu tidak saja hanya berlaku pada saat malam
al-Qadr, lebih dari itu pesan perdamaian tersebut harusnya mengikat pada setiap diri seorang muslim untuk selalu menebar perdaiaman dan keselamatan bagi orang-orang disekitarnya. Selain itu makna dan fungsi malam
al-Qadr juga terletak sejauh mana seseorang yang ingin mendapatkan kebaikan malam tersebut terus menerus menyampaikan pesan damai, dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman. Sebagaimana karakter mukmin sejati adalah membuat orang lain merasa aman dari ancaman kejahatan lisan dan perbuatannya, demikian Nabi Muhammad mensabdakannya.
Pesan damai di malam
al-Qadr menjadi sangat urgen untuk ditransformasikan mengingat saat ini muslim, khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya, lagi bersama-sama menghadapi wabah pandemic covid 19. Bencana corona telah dan mungkin akan berdampak pada setiap sisi kehidupan manusia tidak terlewatkan sisi ekonomi. Kegiatan ekonomi menjadi lesu, penghasilan masyarakat berkurang, bahkan tidak sedikit yang kehilangan sumber-sumber ekonominya. Jika kondisi demikian tidak disikapi dengan saling menebar kedamaian, maka yang terjadi adalah saling curiga antar satu orang dengan lainnya, dan pada akhirnya akan terjadi tindak destruktif. Tindak destruktif alasana dan atas nama apapun tentu sangat bertentangan dengan spirit
salamun dalam surat
al-Qadr tersebut. Salam para Malaikat kepada para pencari malam
al-Qadr tidak akan memiki makna
ta’abudi jika tidak dibarengi dengan beberapa hal berikut ini;
Pertama, komitmen untuk selalu menebarkan perdamaian sebagaimana hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari
“……maukah kamu kutunjukkan sesuatu, apabila kamu lakukan akan saling mencintai?tebarkanlah salam (perdamaian) di antara kamu…” Dalam surat an-nisa; 86 Allah berfirman
”…..apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas segala sesuatu”. Kehidupan yang damai adalah kehidupan yang saling mencintai antar anak bangsa, menghormati hak masing-masing tanpa menegasikan yang lain dan menjaga spirit kebersamaan dalam perbedaan serta munculnya kesadaran untuk saling berbagi terlebih dalam suasana
pagebluk akibat corona seperti sekarang ini.
Kedua, memahami pesan sentral al-Qur’an yaitu perdamaian. Terdapat korelasi simbolik antara surat
al-Qadr yang menjelaskan tentang turunnya al-qur’an dengan perdamaian. Al-Qur’an adalah sumber perdaiaman, jalan menuju keselamatan dan ketentraman serta puncak dari kebijaksanaan. Maka sungguh sangat ironis tatkala segelintir orang membuat ulah ketidaknyamanan ditengah-tengah masyarakat yang bertentangan dengan pesan sentral al-Qur’an tersebut (perdamaian). Kata
salam di dalam al-Qur’an terulang sebanyak 146 kali, yang mayoritas kata tersebut bermakna anjuran untuk menebarkan perdamaian.
Ketiga, anjuran untuk selalu berdoa mendapatkan keselamatan dan perdamaina. Hal tersebut sebagaimana kebiasaan Nabi Muhammad setelah selesai mengerjakan sholat fardhu selalu membaca do’a
“Allahumma antassalam, wa minkassalam, wa ilaika ya ‘udussalam, fahayyina rabbana bissalam, wa adkhilna jannata daarassalam”
Malam
al-Qadr adalah malam turunnya malaikat untuk menebar kedamaian dan mendoakan manusia agar berlimpah ruah karunia di atas bumi Allah ini. Maka tugas manusia selanjutnya berbagi atas kelimpahan karunia tersebut kepada sesame dan menebarkan rasa damai diantara sesamanya sebagai ciri dia mendapatkan keberkahan di malam
al-Qadr.
Penulis: Dr. H. Muhajir, S.Pd.I., MSI
(Dai Ambassador DD dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Bagikan Konten Melalui :