Momen 5 Rajab Sekumpul Ke-21

Ada apa dengan Momen 5 Rajab Sekumpul? Acara apakah itu? Simak kalimat demi kalimat dengan baik dan seksama!

Da'i Ambassador

Momen 5 Rajab Sekumpul adalah peringatan Haul Abah Guru Sekumpul yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 5 Rajab di Sekumpul, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Abah Guru Sekumpul merupakan panggilan untuk Almarhum Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni, seorang ulama kharismatik yang memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, tidak hanya di Kalimantan Selatan, tetapi juga di berbagai daerah lainnya.

Haul sendiri merupakan tradisi keagamaan yang bertujuan untuk mengenang wafatnya seseorang yang dihormati dan dicintai. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap tahun oleh keluarga, kerabat, sahabat, serta masyarakat luas. Dalam peringatan haul, jamaah bersama-sama membaca surat-surat pilihan dalam Al-Qur’an, seperti Al-Fatihah, beberapa ayat Al-Baqarah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Selain itu, lantunan zikir, salawat, tasbih, dan istigfar juga menjadi bagian dari rangkaian acara, yang semuanya diniatkan sebagai pahala untuk almarhum.

Meski pelaksanaan haul masih memiliki perbedaan pandangan di kalangan umat Islam, tradisi ini tetap hidup dan dijalankan oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Perbedaan pendapat tersebut merupakan hal yang wajar dan telah ada sejak lama. Selama disikapi dengan saling menghormati, perbedaan justru menjadi bagian dari kekayaan khazanah keagamaan dan budaya masyarakat.

Lalu, apa yang membuat Haul Abah Guru Sekumpul begitu istimewa hingga menjadi judul tulisan ini? 

Pertanyaan tersebut sebenarnya mulai muncul ketika salah seorang sahabat mengajak penulis untuk menemaninya pulang ke kampung halaman di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Awalnya, penulis menolak ajakan itu karena mengira hanya sekadar basa-basi.

Namun, sahabat saya tersebut kemudian menguatkan ajakannya dengan alasan ingin menghadiri Haul Abah Guru Sekumpul ke-21. Ia juga bercerita bahwa hampir seluruh masyarakat Kalimantan Selatan yang sedang merantau biasanya pulang kampung untuk menghadiri acara tersebut. Bahkan, menurutnya, momen haul ini kerap disebut sebagai “Lebaran kedua” bagi masyarakat Banjar, karena begitu besarnya rasa cinta dan penghormatan kepada Al-Maghfurlah Tuan Syeikh Abah Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni. Alasan itulah beliau pulang kampung, sekaligus ingin menyaksikan secara langsung keistimewaan Haul Abah Guru Sekumpul yang selama ini banyak diceritakan orang.

Sesi pertama, tiba di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan.

“Sekumpul… sekumpul… silakan… kopi, teh, snack… silakan…”

Saya sempat terkejut mendengar suara itu. Beberapa orang menghampiri kami dengan ramah. Ternyata, mereka adalah para relawan yang membuka gerai gratis untuk para tamu Haul Abah Guru Sekumpul ke-21. Sahabat saya hanya tersenyum kecil melihat ekspresi keheranan saya.

Sayangnya, saya dan sahabat tidak sempat menikmati hidangan gratis tersebut karena ingin segera menuju rumah beliau yang jaraknya sekitar 200 meter dari titik acara haul. Alasannya cukup masuk akal, kami khawatir terjebak kemacetan yang semakin parah.

Saat kami bergegas menuju pintu keluar bandara untuk dijemput kerabat, kejutan berikutnya kembali terjadi.

“Ayo, yang mau ke Sekumpul, taksi gratis, silakan!” seru beberapa relawan lainnya.

Sekali lagi, kami menolak dengan sopan karena sudah ada yang menjemput. Sahabat saya kembali tersenyum kecil melihat keterkejutan saya. Ia lalu menjelaskan bahwa layanan jemputan gratis tidak hanya tersedia di bandara, tetapi juga di Pelabuhan Trisakti Banjarbaru. Kendaraan yang disiapkan pun beragam, mulai dari mobil berkapasitas 4 hingga 8 penumpang, bahkan bus-bus besar untuk para jamaah. Masya Allah.

Sesi kedua, perjalanan menuju rumah sahabat.

“Ustaz, coba lihat tenda-tenda yang berjajar di sepanjang jalan itu,” ujar sahabat saya sambil menunjuk ke luar jendela. “Kami menyebutnya rest area. Di sana, para relawan menyiapkan makanan berat dan ringan untuk jamaah yang kelelahan.”

Ia melanjutkan, “Itu juga ada bengkel dan tambal ban gratis.”

Saya semakin takjub saat ia menambahkan, “Coba perhatikan nomor plat kendaraan yang berbeda-beda. Haul Abah Guru Sekumpul tidak hanya dihadiri masyarakat Banjar, tetapi juga jamaah dari seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri.”

Tak lama kemudian, kami mendapat pemberitahuan, “Maaf, Ustaz, kita harus melanjutkan perjalanan dengan roda dua. Kendaraan roda empat sudah tidak diizinkan melintas karena jamaah semakin banyak berdatangan.”

Ternyata benar, jalanan sudah dipenuhi jamaah, padahal lokasi acara masih sekitar tiga kilometer lagi.

Sepanjang perjalanan dengan sepeda motor, saya melihat begitu banyak dapur umum yang dikelola para relawan. Mereka memasak nasi dan lauk berupa daging sapi untuk menjamu para tamu haul.

“Tahun ini, sedikitnya ada 250 ekor sapi yang disumbangkan masyarakat untuk menjamu jamaah haul,” ujar pengendara motor yang saya tumpangi.

Mendengar itu, kekaguman saya semakin bertambah. Bukan hanya soal jumlah jamaah, tetapi juga tentang ketulusan, kebersamaan, dan cinta yang begitu besar kepada Abah Guru Sekumpul.

“Ustaz, coba lihat seluruh rumah di sini. Mereka semua menyiapkan rumah mereka untuk dijadikan penginapan gratis.” Betul saja, mulai dari halaman depan rumah sampai ruang utama dihampari hambal untuk para tamu yang ingin tidur dan melepaslelah. Bukan hanya itu, tuan rumah juga menghindangkan makan gratis tiga kali sehari, kopi, teh dan kue-kue juga disediakan. “Tak satupun disini ada rumah yang tidak membuka pintunya. Semuanya menjadi tuan rumah plus relawan!" ujarnya membuat saya semakin terbius.

Dan benar saja, setibanya saya di rumah sahabat, rumahnya sudah dipenuhi para tamu, sama seperti yang dikatakan driver kami. Tidak sedikit dari para tamu yang sudah datang dua hari lebih dahulu dari saya. 

“Assalamu’alaikum,” sapa kami kepada para tamu yang telah lebih dulu memenuhi rumah. Sahabat saya kemudian menemui orang tuanya dan memperkenalkan saya.

“Selamat datang, Ustaz,” sambut sang ayah sambil memeluk saya dengan hangat. “Rizal, kamar Ustaz di atas sudah kami siapkan,” ujarnya dengan penuh perhatian.

“Terima kasih, Pak Haji. Jika diizinkan, saya lebih nyaman di sini saja, menyatu bersama para tamu lainnya,” jawab saya sambil berusaha menolak dengan halus.

“Jangan, Ustaz. Memang sudah kami siapkan khusus untuk Ustaz,” jawab beliau. Para tamu lainnya pun turut mempersilakan dengan ketulusan yang sama.

Akhirnya, dengan perasaan sungkan, saya menerima sambutan tersebut. Bukan karena merasa pantas diperlakukan istimewa, melainkan karena ketulusan mereka yang sulit untuk ditolak. Di saat itulah saya kembali merasakan, bahwa keramahan dan adab masyarakat Banjar benar-benar hidup dan terasa, terutama dalam momen Haul Abah Guru Sekumpul.

Sesi ketiga, pagi hari menjelang pelaksanaan haul (haul dimulai ba’da maghrib sampai shalat Isya’ selesai).

Sekitar dua jam sebelum subuh, saya sudah bangun dan mandi agar tidak perlu mengantre. Setengah jam menjelang subuh, saya bersama sahabat berangkat menuju musala, lokasi utama pelaksanaan haul. Namun, baru beberapa langkah keluar rumah, jalanan sudah dipadati jamaah.

Akhirnya, kami langsung membentuk saf di jalan yang sebelumnya telah diberi tanda garis oleh para relawan. Meski jarak musala cukup jauh, relawan telah menyiapkan pengeras suara di berbagai titik, sehingga suara imam tetap terdengar jelas tanpa kendala. Yang membuat saya tertegun, saf salat subuh ternyata terus memanjang hingga beberapa kilometer.

Bahkan sebelum rangkaian zikir dan doa yang dipimpin imam selesai, para relawan sudah membagikan sarapan pagi berupa nasi kotak kepada jamaah. Masya Allah, semua dibagikan dengan tertib, tanpa dorong-dorongan, dan tanpa perlu mengantre. Suasana khusyuk, tertib, dan penuh ketulusan benar-benar terasa di pagi yang penuh berkah itu.

Setelah itu, kami kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak. Sahabat saya kemudian berpesan agar kami sudah kembali ke Raudhah, Musala Guru Sekumpul yang menjadi lokasi pelaksanaan haul, sekitar pukul 09.00 WITA. Jika berangkat melewati waktu tersebut, kami dikhawatirkan tidak mendapatkan tempat yang cukup dekat dengan titik utama acara.

Benar saja, sekitar pukul 08.30 WITA kami sudah sibuk mencari lokasi untuk menggelar sajadah. Hampir satu jam kami berkeliling mencari celah di antara lautan jamaah. Semua tempat tampak telah penuh. Bahkan, sempat terlintas di benak untuk kembali ke rumah dan menunggu acara yang akan dimulai ba’da Magrib nanti. Alhamdulillah, usaha kami akhirnya membuahkan hasil. Masih ada sedikit ruang bagi kami untuk duduk, tepat di dekat pintu masuk Raudhah.

Kami bersama ribuan jamaah lainnya kemudian menunggu waktu salat Zuhur. Selama menunggu, suasana diisi dengan beragam aktivitas. Ada yang beristirahat sejenak, ada yang larut dalam zikir dan salawat. Usai salat Zuhur berjamaah, para relawan kembali membagikan makan siang. Tidak hanya makanan berat, jamaah juga mendapatkan makanan ringan seperti roti, permen, dan mie instan cup. Di beberapa titik, tersedia termos besar berisi es sirup, kopi, teh, serta air panas untuk mie instan. Masya Allah.

Menjelang waktu Asar, jumlah jamaah semakin membludak. Semua penjuru jalan dipenuhi lautan manusia. Barisan jamaah bahkan membentang hingga sekitar enam kilometer. Kepadatan yang luar biasa ini membuat sinyal telepon genggam tidak lagi stabil. Pesan yang dikirim maupun diterima melalui WhatsApp kerap mengalami keterlambatan hingga sepuluh menit.

Di tengah kondisi itu, saya sempat membaca status WhatsApp dan mendapati kabar bahwa beberapa teman dari Jakarta juga hadir. Bahkan, salah satu dari mereka berada di tengah jamaah yang jaraknya sekitar dua kilometer dari posisi saya. Seketika saya tersenyum, menyadari bahwa Haul Abah Guru Sekumpul benar-benar menjadi titik temu umat dari berbagai penjuru.

Sesi keempat, pelaksanaan haul.

Bagi mereka yang belum pernah hadir, mungkin terbayang bahwa prosesi haul berlangsung panjang dan melelahkan. Pada umumnya, sebuah haul diisi dengan pembacaan Yasin, tahlil, zikir, doa, serta ceramah agama dari para ulama. Namun, Haul Abah Guru Sekumpul memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak ada kata sambutan, tidak pula ceramah agama. Seluruh rangkaian acara berjalan dalam kesederhanaan yang menyejukkan, hanya diisi dengan pembacaan Yasin, zikir, tahlil, serta pembacaan riwayat maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini dimulai selepas salat Magrib berjamaah dan berakhir dengan salat Isya berjamaah. Waktunya singkat, namun keberkahannya terasa begitu luas. Dalam waktu yang terbatas itu, jutaan jamaah hadir dengan penuh cinta dan ketundukan. Masya Allah.

Dalam peringatan haul ini, tidak ada satu pun jamaah yang diistimewakan. Semua dipandang sama, tanpa sekat dan tanpa perbedaan. Ulama, pejabat, tokoh masyarakat, maupun jamaah biasa duduk beralaskan sajadah sesuai waktu kedatangan mereka. Tidak ada pengawalan, tidak ada perlakuan khusus. Siapa pun dia, duduk menyatu bersama jutaan hati yang datang dengan tujuan yang sama.

Tidak ada undangan resmi yang disebarkan. Setiap tanggal 5 Rajab, haul ini seolah telah tertanam dalam ingatan dan jiwa umat. Informasi cukup disampaikan oleh para relawan melalui media sosial atau spanduk sederhana. Tidak ada panitia formal. Seluruh masyarakat Banjar adalah panitia. Mereka hadir sebagai relawan, bekerja dengan keikhlasan, menugaskan diri sesuai kemampuan masing-masing, tanpa perintah dan tanpa pamrih.

Sesi kelima, selesai haul.

Usai rangkaian ibadah selesai, jamaah membubarkan diri dengan penuh ketertiban. Tidak terdengar teriakan, tidak ada dorong-dorongan, dan tidak terlihat kekacauan. Walaupun jutaan orang bergerak hampir bersamaan, suasana tetap tertib dan damai. Menurut informasi resmi dari kepolisian setempat, Haul Guru Sekumpul yang dilaksanakan pada Ahad, 28 Desember ini dihadiri oleh 4,9 juta jamaah.

Kemacetan di jalan tentu tidak terhindarkan. Jalanan padat bahkan berjam-jam dan membentang hingga berkilo-kilo meter. Namun yang mengagumkan, hampir tidak terdengar suara klakson. Para jamaah tetap sabar, tenang, dan patuh terhadap aturan lalu lintas, seolah kesabaran menjadi bagian dari ibadah yang terus mereka jaga.

Bagi jamaah yang belum dapat kembali ke daerah asal, rumah-rumah penduduk kembali menjadi tempat bernaung. Mereka diinapkan dan dijamu dengan penuh kehangatan, sama seperti saat pertama kali datang. Tidak ada yang berubah, kecuali rasa syukur yang semakin dalam. Masya Allah.

Penutup

Haul Abah Guru Sekumpul ke-21 ini begitu penuh makna dan menyentuh hati. Momen yang menyatukan umat dalam ketulusan dan cinta yang luar biasa, mengingatkan kita akan betapa besarnya kasih sayang masyarakat Banjar terhadap sang guru, Al-Maghfurlah Tuan Guru Abah KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni. Meski acara ini berlangsung dalam kesederhanaan, namun kekhidmatan dan keberkahan yang terasa begitu mendalam.

Seluruh jamaah, tanpa memandang status atau kedudukan, duduk bersama, menyatu dalam satu tujuan: mengenang dan mendoakan guru tercinta. Tak ada pengawalan, tak ada perlakuan istimewa. Semuanya berbaur dalam cinta dan penghormatan yang tulus. Keikhlasan para relawan yang mempersiapkan segala sesuatu, dari hidangan gratis hingga penginapan bagi jamaah yang datang, menunjukkan betapa eratnya kebersamaan dalam momen ini.

Keramahan masyarakat yang membuka pintu rumah mereka dengan penuh kehangatan menjadi salah satu pemandangan paling mengesankan. Masyarakat Banjar dengan sepenuh hati menjamu para tamu, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Bukan hanya tentang jumlah jamaah yang begitu banyak, namun tentang ketulusan hati dan persatuan yang tercipta.

Acara haul yang singkat namun penuh makna ini menunjukkan bahwa keberkahan tidak terletak pada panjangnya waktu, melainkan pada ketulusan niat dan kebersamaan. Suasana yang penuh kedamaian, ketertiban, dan kebersamaan menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya dilakukan dalam waktu-waktu yang ditentukan, tetapi juga dalam setiap tindakan dan sikap yang penuh kasih dan kesabaran. Masya Allah, sebuah momen yang mengajarkan banyak tentang kebersamaan, penghormatan, dan rasa syukur yang tak ternilai.

Foto : Freepik

Bagikan Konten Melalui :