Minta Saleh Dulu, Baru Minta Yang Lain!

Berdoa agar anak kita sukses dunia, boleh saja. Luangkanlah waktu untuk menyimak doa Nabi Ibrahim dalam tulisan kali ini!

Da'i Ambassador

Semua kisah yang Allah sampaikan di dalam Al-Qur’an bukanlah kisah fiksi dan bukan pula karangan manusia. Setiap kisah adalah kenyataan yang Allah pilih untuk diabadikan. Di dalamnya tersimpan ilmu, hikmah, pelajaran hidup, dan petunjuk yang tetap relevan hingga akhir zaman.

Salah satu sosok besar yang banyak Allah kisahkan adalah Nabi Ibrahim AS. Beliau bukan hanya seorang nabi, tetapi juga teladan tentang keteguhan iman, kesabaran, dan keberanian dalam menghadapi ujian hidup. Sejak usia muda, bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, Ibrahim telah ditempa dengan berbagai ujian yang berat.

Ujian pertama yang beliau hadapi datang dari lingkaran paling dekat, yaitu keluarga. Ibrahim berusaha mengajak Azar, (yang oleh sebagian ulama disebut sebagai ayah, dan sebagian lain menyebutnya sebagai paman) agar meninggalkan penyembahan kepada berhala. Namun, ajakan yang penuh kasih dan kebenaran itu tidak disambut dengan kelembutan. Justru yang hadir adalah penolakan keras dan ancaman. Di sinilah kita belajar bahwa tidak semua kebaikan akan langsung diterima, bahkan oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita. Kisah ini Allah abadikan dalam Q.S. Maryam: 41–45.

Ujian Ibrahim tidak berhenti di ruang keluarga. Tantangan dakwah semakin meluas ketika beliau menyeru kaumnya untuk meninggalkan berhala. Penolakan demi penolakan beliau hadapi, hingga pada puncaknya, Ibrahim dibakar oleh Namrud. Secara manusiawi, api adalah sesuatu yang panas dan membakar. Namun ketika Allah berkehendak, api itu tunduk kepada perintah-Nya. Allah menjadikannya dingin dan menyelamatkan Ibrahim. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa ketika seluruh jalan tampak tertutup, pertolongan Allah tetap dapat datang dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. Kisah ini diabadikan dalam Q.S. Al-Anbiya’: 51–71.

Betapa sabar dan tangguhnya Nabi Ibrahim AS. Ujian dakwah yang beliau hadapi bukan hanya berupa tekanan batin, hinaan, dan penolakan. Nyawa beliau pun menjadi taruhannya. Namun, iman yang kuat membuat beliau tetap berdiri teguh di atas kebenaran.

Akan tetapi, ujian besar dalam hidup Ibrahim tidak berhenti sampai di sana. Bisa jadi ujian-ujian dalam dakwah itu hanyalah pembuka dari rangkaian ujian yang lebih dalam. Sebagai seorang tokoh besar dan pemimpin bagi orang-orang beriman, Ibrahim juga diuji dalam kehidupan rumah tangganya. Dalam waktu yang sangat lama, istrinya, Sarah, belum dikaruniai keturunan. Usia terus bertambah, sementara harapan memiliki anak belum juga terwujud.

Lalu Sarah meminta Ibrahim menikahi Hajar agar beliau memperoleh keturunan. Atas izin Allah, lahirlah seorang putra yang cerdas, saleh, dan santun. Dialah Ismail AS. Kehadiran Ismail tentu menjadi kebahagiaan besar bagi Ibrahim setelah sekian lama menanti keturunan.

Namun, justru di tengah kebahagiaan itu, ujian berikutnya datang. Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail ke tempat yang sangat jauh dari Palestina. Perjalanan ratusan bahkan ribuan kilometer harus mereka tempuh melalui daratan yang berat, di bawah terik matahari gurun dan dinginnya malam.

Yang lebih berat lagi, Hajar dan Ismail ditempatkan di sisi Baitullah, di sebuah lembah yang tandus, tanpa tanaman, tanpa sumber air, dan tanpa tanda-tanda kehidupan. Secara lahiriah, tempat itu tampak mustahil untuk menjadi tempat bertahan hidup. Namun di sanalah iman diuji. Di sanalah tawakal dibuktikan. Dan di sanalah kita belajar bahwa tempat yang tampak kosong dalam pandangan manusia, bisa menjadi tempat tumbuhnya keberkahan besar ketika Allah yang menghendakinya.

Ibrahim, Hajar, dan Ismail menunjukkan kepada kita makna tawakal yang sesungguhnya. Tawakal bukan berarti tidak merasa berat. Tawakal bukan berarti tidak ada air mata. Tawakal juga bukan berarti hati tidak diuji oleh rasa khawatir. Tetapi tawakal adalah ketika seorang hamba tetap menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah, setelah ia yakin bahwa perintah Allah tidak mungkin membawa kepada kesia-siaan.

Ibrahim AS meninggalkan istri dan putranya bukan karena tidak sayang. Justru karena cintanya kepada Allah lebih besar dari segala sesuatu. Hajar pun menerima keadaan itu bukan karena tidak takut, tetapi karena ia yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba yang berjalan di atas perintah-Nya. Ismail yang masih kecil pun menjadi bagian dari rencana besar Allah yang saat itu belum sepenuhnya terlihat oleh mata manusia.

Dalam keadaan yang secara lahir tampak sulit, Ibrahim tidak menggantungkan harapan kepada manusia. Beliau mengangkat doa kepada Allah, memohon pertolongan dan penjagaan-Nya. Sebab Ibrahim tahu, tempat yang tandus akan menjadi subur bila Allah menghendaki. Kesendirian akan menjadi penjagaan bila Allah membersamai. Dan keterbatasan akan menjadi jalan keberkahan bila Allah yang membukakan pintunya.

Lalu Ibrahim AS berdoa:

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ.

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim: 37).

Jika kita mencermati doa Nabi Ibrahim AS pada ayat tersebut, ada pelajaran yang sangat dalam untuk direnungkan.

Seandainya kita berada di posisi beliau saat itu, mungkin yang pertama kali kita minta kepada Allah adalah makanan, air, tempat tinggal, atau keselamatan fisik bagi Hajar dan Ismail. Sebab secara lahiriah, mereka ditinggalkan di tempat yang sangat tandus, tanpa tanaman, tanpa sumber air, dan tanpa tanda-tanda kehidupan.

Namun, lihatlah apa yang pertama kali diminta oleh Nabi Ibrahim AS. Beliau tidak memulai doanya dengan permintaan dunia. Beliau memohon agar keluarganya dan keturunannya menjadi orang-orang yang mendirikan salat.

Di sinilah letak keagungan cara pandang seorang nabi. Ibrahim AS mengajarkan bahwa kebutuhan paling utama dalam hidup bukan hanya makanan dan minuman, tetapi hubungan yang kuat dengan Allah. Sebab bila salat terjaga, hati akan tetap hidup. Bila iman tertanam, hidup akan memiliki arah. Dan bila kesalehan menjadi dasar, maka rezeki yang datang akan membawa keberkahan.

Baru setelah itu, Ibrahim AS memohon agar mereka diberi rezeki berupa buah-buahan, agar mereka bersyukur. Ini memberi isyarat bahwa rezeki bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi untuk mengantar manusia kepada syukur. Sebab rezeki tanpa syukur bisa membuat manusia lalai, sedangkan rezeki yang disertai iman akan menjadi jalan mendekat kepada Allah.

Doa Nabi Ibrahim AS menjadi pelajaran besar bagi para ayah dan bunda. Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anaknya sukses secara duniawi, tetapi juga memastikan mereka memiliki fondasi iman dan kesalehan. Sebab apa artinya anak memiliki banyak pencapaian, jika hatinya jauh dari Allah? Apa artinya jabatan tinggi, bila tidak disertai akhlak dan ketundukan kepada-Nya?

Maka, apa pun profesi anak-anak kita kelak, kesalehan harus menjadi bekal utamanya. Silakan menjadi dokter, tetapi jadilah dokter yang saleh. Silakan menjadi teknokrat, tetapi jadilah teknokrat yang saleh. Silakan menjadi pemimpin, pengusaha, pendidik, ilmuwan, atau apa pun profesi yang mulia, tetapi jangan pernah lepaskan nilai iman dari dalam dirinya.

Ujian Nabi Ibrahim AS pun terus meningkat. Ketika Ismail mulai beranjak remaja, saat kasih sayang seorang ayah sedang tumbuh begitu kuat kepada anak yang telah lama dinanti, Allah kembali menguji beliau. Ibrahim AS diperintahkan untuk mengorbankan Ismail.

Ini bukan ujian biasa. Ini adalah ujian cinta. Siapakah yang lebih dicintai oleh Ibrahim: Allah atau Ismail? Anak yang lama dinanti, atau Rabb yang telah memberi segalanya?

Dan sekali lagi, Ibrahim AS lulus dalam ujian itu. Ismail pun menunjukkan ketundukan yang luar biasa. Hajar juga menjadi bagian dari keluarga yang kokoh imannya. Mereka semua mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta. Ketika Ibrahim hendak melaksanakan perintah itu, Allah menebus Ismail dengan sembelihan yang besar. Kisah agung ini Allah abadikan dalam Q.S. Ash-Shaffat: 102 – 110.

Dari kesabaran Ibrahim, lahirlah keberkahan yang besar. Tempat tandus yang dahulu seakan tidak menjanjikan kehidupan, kelak menjadi Makkah, satu kota suci yang diziarahi umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Dari keturunan Ibrahim melalui jalur Ismail, lahirlah manusia paling mulia, Nabi Muhammad SAW. Dan Sarah, yang telah lanjut usia dan sebelumnya mandul, Allah muliakan dengan lahirnya Nabi Ishaq AS. Dari jalur Ishaq, lahirlah banyak nabi dan rasul dari kalangan Bani Israil.

Semua ini mengajarkan kita bahwa tidak ada kesabaran yang sia-sia di sisi Allah. Tidak ada pengorbanan yang hilang begitu saja ketika dilakukan karena iman. Tidak ada ketaatan yang berakhir dengan kerugian, meskipun pada awalnya tampak berat bagi hati manusia.

Wahai para ayah, belajarlah menjadi sosok yang tangguh seperti Nabi Ibrahim AS. Tangguh dalam iman, sabar dalam ujian, dan kokoh dalam memimpin keluarga menuju jalan Allah.

Wahai para orang tua, jangan hanya sibuk menyiapkan masa depan dunia anak-anak kita. Siapkan juga masa depan akhirat mereka. Sebab keberkahan hidup bukan hanya terletak pada kecukupan harta, tingginya kedudukan, atau luasnya pengetahuan, tetapi pada kesalehan yang tertanam dalam diri dan keturunan.

Ternyata, sabar dan tangguh adalah jalan menuju keberkahan. Dan kesalehan adalah warisan terbaik yang dapat ditinggalkan untuk anak cucu kita.

Wallahu a’lam.

Foto : Magnific

Bagikan Konten Melalui :