Marhaban Ya Ramadan

Kata marhaban biasa digunakan oleh orang Arab untuk menyambut kedatangan seseorang, menyambut Ramadan? Perlukah? Simak artikel berikut!

Da'i Ambassador

Marhaban artinya “Selamat Datang”. Kata marhaban biasa digunakan oleh orang Arab untuk menyambut kedatangan seseorang. Maksud menyambut dengan menggunakan kata ini adalah untuk mengharapkan kebajikan dan pertemuan yang baik.[1] Dengan demikian, Marhaban ya Ramadan adalah menyambut kedatangan bulan Ramadan dengan penuh ketulusan, suka cita dan mengharapkan kebaikan dan keberkahan.

Menyambut adalah salah satu perbuatan untuk menghormati atau memuliakan yang disambut. Kita beri contoh misalnya, ada salah satu masjid yang baru saja selesai dibangun. Pengurus masjid mengundang Kepala Negara untuk meresmikannya. 

Jauh sebelum kedatangan presiden, bukan hanya pengurus masjid yang sibuk rapat, aparat setempat seperti RT, RW, Lurah, Camat, Walikota, TNI, POLRI juga ikut sibuk. Tidak boleh ada sedikit pun jalan berlubang. Tidak boleh ada spanduk liar yang mengganggu keindahan dan kenyamanan jalan dan tentunya kawasan harus steril. Begitulah sibuknya sekelompok orang menyambut sang presiden!

Pertanyaannya, lebih mulia manakah antara presiden dengan Ramadan? Jika sang presiden dapat berganti setiap lima tahun, maka Ramadan tidak pernah berganti! 

Jadi, menyambut Ramadan bagi kita adalah suatu keniscayaan dan penting!

Semulia apakah Ramadan, sehingga kita harus menyambutnya? Berikut kami sampaikan beberapa dari sekian banyaknya kemuliaan Ramadan, diantaranya :

Bulan Puasa Masal

Jika puasa sunah hanya dilaksanakan oleh yang mau saja, maka berbeda dengan Ramadan. Selama tidak gila, sehat dan mampu berpuasa, safar jauh, tidak haid dan tidak uzur syar’i, maka setiap muslim wajib berpuasa. 

Firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” ( Q.S. Al-Baqarah: 185).

Bulan Al-Qur’an dan Tradisi Khatam Al-Qur’an

Hadis nabi SAW:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Biasa Jibril mengecek bacaan Al-Qur`an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali pada setiap tahunnya. Namun pada tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jibril melakukannya dua kali. (HR. Bukhari).

Rasulullah biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril AS setiap bulan Ramadan. Hadis ini bisa saja menjadi alasan bagi para ulama salaf untuk mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, seperti:[2]

  • Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama bulan Ramadan. Jika 60 kali, maka beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali setiap hari.
  • Imam Bukhari mengkhatamkan Al-Qur’an di siang hari dan setelah shalat tarawih beliau khatam setiap tiga malam.
  • Qatadah Ibn Da’amah (Tabi’in) murid dari Ibn Mas’ud, Anas Ibn Maik dan Ibn Abbas, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari, untuk sepuluh hari terakhir, beliau mengkhatamkannya setiap hari.
  • Dan masih banyak para ulama dahulu yang melakukan hal yang sama.

Bulan Penuh Ampunan
Hadis nabi SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari)

Bulan Panen Pahala
Hadis Nabi SAW:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ.

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari Muslim).

Bulan Untuk Terapi Masal Kontrol Emosi 

Hadis Nabi SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رِوَايَةً قَالَ: إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ  امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ.

Dari Abu Hurairah -secara riwayat (menukil dan menceritakan hadits dari Nabi) beliau berkata: “Apabila salah seorang dari kalian berpuasa di suatu hari, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan berbuat kesia-siaan. Bila ia mencaci seseorang atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan: “Sesungguhnya saya sedang berpusa.”(HR. Muslim).

Bulan Para Dermawan

Hadis Nabi SAW:

عَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

Bahwa Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadan (untuk membacakan Al-Qur’an) hingga Al-Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus”. (HR. Bukhari).

Bulan Duplikasi Pahala

Hadis nabi SAW:

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا.

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun” (HR. Tirmidzi).

Bulan Perbaikan Kualitas Diri Secara Masif

Hadis nabi SAW:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila bulan Ramadan datang, maka pintu-pintu langit dibuka sedangkan pintu-pintu jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu”. (HR. Bukhari Sanad Abi Hurairah).

Dan masih banyak lagi keistimewaan bulan Ramadan yang tidak cukup disebutkan.

Semoga Allah pertemukan kita dengan bulan Ramdan dan dapat beribadah di dalamnya dengan penuh khusyuk’, aamiin.

Wallau A’lam.

-------------
 
Foto : Freepik

[1] Lihat An-Nawawi, Shahih Muslim Bi Syarh An-Nawawi, Musassasah Qurthubaj, Cairo, 1414 H, Juz 1, Hal. 261.

[2] Ridwan Shaleh, Aplikasi Hadis-hadis Ramadhan, Pusat Kajian Hadis, Jakarta, 2022.

Bagikan Konten Melalui :