Ketika Allah Menegur Rasul-Nya
Benarkah Allah pernah menegur Rasulullah? Bukankah Rasulullah sosok yang Ma'shum? Apa hikmah dibaliknya? Simak artikel berikut!
Ada sebuah penyakit manusia yang sering muncul tanpa disadari, yaitu menilai seseorang berdasarkan apa yang terlihat. Seseorang lebih mudah dihormati karena jabatan yang dimiliki, lebih mudah mendapatkan perhatian karena kekayaan yang dikuasai, dan lebih mudah didengar karena pengaruh yang dimilikinya. Sebaliknya, mereka yang sederhana, lemah, atau tidak memiliki kedudukan sosial sering kali berjalan tanpa banyak diperhatikan, meskipun bisa jadi mereka memiliki hati yang lebih dekat kepada Allah. Cara pandang seperti ini telah menjadi bagian dari tabiat manusia sejak dahulu, yaitu kecenderungan memberikan nilai kepada seseorang berdasarkan ukuran duniawi, bukan berdasarkan nilai yang sebenarnya di sisi Allah.
Al-Qur’an hadir untuk memperbaiki cara manusia memandang sesamanya. Islam tidak mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh harta, keturunan, jabatan, atau kondisi fisiknya. Semua atribut tersebut hanyalah bagian dari kehidupan dunia yang sifatnya sementara. Ukuran kemuliaan yang sebenarnya adalah iman, ketakwaan, dan ketulusan seseorang dalam menjalankan penghambaan kepada Allah. Salah satu kisah yang paling kuat dalam menjelaskan prinsip ini terdapat dalam Surat ‘Abasa, sebuah surat yang mengabadikan peristiwa antara Rasulullah SAW dan seorang sahabat yang secara sosial mungkin tidak dianggap penting oleh masyarakatnya, tetapi justru dimuliakan oleh Allah.
Peristiwa tersebut terjadi ketika Rasulullah SAW sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy. Beliau berharap mereka menerima Islam karena posisi mereka di tengah masyarakat Makkah dapat menjadi jalan bagi banyak orang untuk mengenal kebenaran. Para tokoh tersebut memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah masyarakat, sehingga Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus kepada mereka. Di tengah percakapan tersebut, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum RA, seorang sahabat yang memiliki keterbatasan penglihatan namun memiliki semangat besar untuk mendapatkan ilmu dan petunjuk. Namun, kedatangan Abdullah tersebut membuat Rasulullah SAW merasa terganggu dan spontan Beliau SAW bermuka masam.
Abdullah bin Ummi Maktum RA tidak datang membawa kekuasaan, harta, atau pengaruh sosial. Ia datang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu hati yang ingin belajar tentang agama Allah. Ia tidak mencari penghormatan manusia, tetapi mencari bimbingan dari Rasulullah SAW. Kehadirannya kemudian menjadi sebab turunnya ayat yang mengandung pelajaran besar bagi seluruh umat manusia tentang bagaimana seharusnya melihat seseorang.
Allah berfirman:
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ.
"Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya, atau dia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya." (QS. ‘Abasa: 1–4).
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah SAW sedang berbicara dengan para tokoh Quraisy, kemudian Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta pengajaran agama. Teguran Allah dalam ayat tersebut mengandung pesan bahwa orang yang datang dengan hati yang tulus mencari petunjuk tidak boleh diabaikan hanya karena ia tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi. Peristiwa ini menjadi salah satu bentuk pendidikan Allah kepada umat Islam bahwa ukuran manusia tidak boleh dibangun berdasarkan standar dunia semata.
Namun teguran tersebut tidak boleh dipahami sebagai celaan terhadap Rasulullah SAW dalam makna merendahkan orang yang lemah. Para ulama menjelaskan bahwa Rasulullah SAW sedang melakukan ijtihad dalam strategi dakwah, yaitu berharap para pemimpin Quraisy mendapatkan hidayah sehinga Islam dapat diterima lebih luas oleh masyarakat. Akan tetapi Allah mengajarkan sebuah prinsip penting bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari siapa yang memiliki pengaruh besar, tetapi juga dari bagaimana seorang muslim memberikan perhatian kepada orang yang datang dengan hati yang terbuka terhadap kebenaran.
Kisah Abdullah bin Ummi Maktum RA tentunya menjadi bukti nyata bahwa Islam tidak pernah menilai manusia berdasarkan keterbatasan fisiknya. Ia bukan seorang sahabat yang dikenang karena kelemahannya, tetapi karena kemuliaannya. Ia termasuk sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW, hadir dalam majelis ilmu, mempelajari wahyu, dan dikenal sebagai salah satu muazin Rasulullah SAW bersama Bilal bin Rabah. Kebutaan yang dialaminya tidak menghalanginya untuk menjadi manusia yang memiliki peran penting dalam kehidupan umat Islam.
Perhatikan pula hadis berikut:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَخْلَفَ ابْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ يَؤُمُّ النَّاسَ وَهُوَ أَعْمَى.
“Dari [Anas] bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menyuruh Ibnu Ummi Maktum menggantikan beliau untuk mengimami manusia sedangkan dia adalah orang yang buta.” (HR. Abu Daud).
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memberikan amanah kepada Abdullah bin Ummi Maktum ketika beliau meninggalkan Madinah. Amanah ini bukan diberikan karena belas kasihan, tetapi karena adanya kepercayaan terhadap kemampuan dan kualitas dirinya. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seseorang harus dinilai berdasarkan kapasitas dan tanggung jawabnya, bukan berdasarkan kekurangan yang melekat pada dirinya.
Dari kisah ini terlihat bahwa standar kemuliaan Islam sangat berbeda dengan standar dunia. Dunia sering melihat manusia berdasarkan apa yang tampak: kekayaan, jabatan, penampilan, dan pengaruh. Namun Allah melihat sesuatu yang lebih dalam: iman, ketulusan, dan ketakwaan. Abdullah bin Ummi Maktum mungkin tidak memiliki sesuatu yang membuat masyarakat Quraisy tertarik kepadanya, tetapi ia memiliki sesuatu yang membuat Allah memuliakannya.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ.
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13).”
Ayat ini menjadi prinsip dasar dalam Islam bahwa kemuliaan manusia bukanlah hasil dari pengakuan sosial, melainkan anugerah Allah berdasarkan kualitas hubungan seorang hamba dengan-Nya. Seseorang tidak menjadi lebih mulia hanya karena ia memiliki harta yang banyak atau dikenal banyak orang. Sebaliknya, seseorang yang sederhana dan tidak dikenal manusia bisa memiliki kedudukan tinggi apabila hatinya dekat dengan Allah.
Pesan Surat ‘Abasa sangat relevan dengan kehidupan manusia hari ini. Di tengah budaya yang sering memberikan penghargaan berdasarkan popularitas, kekayaan, dan kedudukan, kisah Abdullah bin Ummi Maktum mengingatkan bahwa nilai manusia tidak pernah berhenti pada apa yang terlihat. Ada banyak manusia sederhana yang mungkin tidak dikenal oleh dunia, tetapi memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah karena ketulusan dan amalnya.
Pada akhirnya, Surat ‘Abasa bukan hanya berbicara tentang sebuah peristiwa di masa Rasulullah SAW. Ia adalah cermin bagi setiap manusia agar memperbaiki cara memandang sesama. Jangan menghormati seseorang hanya karena apa yang ia miliki, dan jangan meremehkan seseorang hanya karena apa yang tidak ia miliki. Kebanyakan manusia sering melihat rupa, kedudukan, dan pengaruh, sedangkan Allah melihat hati dan ketakwaan.
Abdullah bin Ummi Maktum RA datang sebagai seseorang yang mungkin tidak mendapatkan perhatian besar dari manusia. Namun Allah mengabadikan kisahnya dalam Al-Qur’an hingga akhir zaman sebagai pengingat kita semua.
Wallahu A'lam.
Foto : Magnific