Kabar Terbaru

Gelar Resepsi Pernikahan? Perhatikan Hal Penting!

Pengantin baru bagaikan Raja dan Ratu Sehari. Duduk di pelaminan bersenda gurau. Senyum bahagia menyambut tamu undangan. Begitulah kebahagian di saat resepsi pernikahan. Bukan hanya pengantin yang berbahagia. Seluruh keluarga besar kedua mempelai, kerabat dan tentunya para tamu undangan juga turut bersuka cita.

Di dalam Islam, resepsi pernikahan sangat dianjurkan (sunnah) untuk dilaksanakan. Resepsi tidak harus mewah, yang penting khidmah dan berkah. Kesunahan menyeleggrakan resepsi pernikahan berdasarkan salah satu hadis sahih Rasulullah SAW. Salah satu sahabat Nabi, Abdurrahman Ibn Auf RA, ketika baru saja menikah dengan salah satu wanita Ansar  pernah disapa Rasulullah SAW. Berikut hadisnya:

فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَلَيْهِ أَثَرُ صُفْرَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَمَنْ قَالَ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ كَمْ سُقْتَ قَالَ زِنَةَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

 “Maka tatkala Abdurrahaman (Ibn Auf RA) datang dengan mengenakan pakaian yang bagus dan penuh aroma wewangian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah engkau sudah menikah?” Dia menjawab; “Ya, sudah”. Lalu beliau bertanya lagi: “Dengan siapa?” Dia menjawab; “Dengan seorang wanita Anshar”. Beliau bertanya lagi: “Dengan mahar apa engkau melakukan akad nikah?” Dia menjawab; “Dengan perhiasan sebiji emas, atau sebiji emas”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepadanya: “Adakanlah walimah (resepsi) walau hanya dengan seekor kambing”. (HR. BukharI).

Saking sunahnya menggelar resepsi pernikahan, sampai-sampai orang yang diundang untuk menghadirinya wajib datang kecuali sebab halangan syar’i. Hukum wajib menghadiri walimah ini merupakan pendapat jumhur mazhab Syafi’i berdasarkan hadis:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا

Dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian diundang ke acara walimahan, hendaklah ia datang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Resepsi pernikahan yang semula hukumnya wajib kita hadiri, menjadi tidak wajib manakala terdapat hal-hal yang menggugurkan kewajiban tersebut. Arti tidak wajib disini adalah boleh memiih antara hadir atau tidak hadir. Sekalipun hadir, maka kita harus menjaga diri kita agar tidak memperoleh mudarat. Al-Imam An-Nawawi menyebutkan hal-hal tersebut sebagai berikut:

وأما الأعذار التي يسقط بها وجوب اجابة الدعوة أو ندبها فمنها أن يكون في الطعام شبهة أو يخص بها الأغنياء أو يكون هناك من يتأذى بحضوره معه أو لا تليق به مجالسته أو يدعوه لخوف شره أو لطمع في جاهه أو ليعاونه على باطل وأن لا يكون هناك منكر من خمر أو لهو أو فرش حرير أو صور حيوان غير مفروشة أو آنية ذهب أو فضة فكل هذه أعذار في ترك الاجابة ومن الاعذار ان يعتذر الى الداعي فيتركه

Artinya: Adapun uzur yang dapat menggugurkan kewajiban atau kesunahan menghadiri walimah di antaranya adalah:[1]

  1. Jamuan yang tidak jelas kehalalannya,
  2. Undangan walimah hanya dikhususkan untuk orang kaya saja.
  3. Terdapat orang yang tersakiti jika ia hadir
  4. Terdapat orang yang tidak layak baginya untuk bersama dengannya.
  5. Khawatir dengan perilaku buruk dari yang mengundang,.
  6. Diundang karena mengharap sebuah jabatan darinya.
  7. Diundang agar berkenan membantu dalam hal kebatilan.
  8. Tidak boleh ada kemungkaran dalam acara, misalnya berupa adanya miras, alat musik (yang haram), perabot dari sutra, gambar hewan (yang dilarang syara’), cawan dari emas atau perak.
Jika kita mencermati apa yang disampaikan Al-Imam An-Nawawi di atas, maka segala bentuk kemaksiatan yang ada dalam walimah menjadikan hal tersebut sebagai uzur untuk dihadiri. Misalnya untuk zaman sekarang ini, tidak sedikit kita mendapati suatu resepsi yang ada hiburan musik yang biduan wanitanya tampil dengan goyangan tidak layak, berpakaian minim dan mengajak sebagian penonton yang bukan mahram untuk bergoyang “syahwat” bersama hingga rela “nyawer” dengan jumlah besar. Jika ini kenyataannya, maka kita tidak wajib hadir untuk resepsi semacam ini.

Dengan demikian, alangkah baiknya para wali nikah yang ingin menggelar resepsi betul-betul memperhatikan hal ini. Silakan saja mengadakan resepsi dan silakan juga menyertakan hiburan yang dapat dikondisikan agar tidak ada unsur kemaksiatan. Musik boleh ? Boleh saja selama lagu yang dibawakan tidak ada lirik-lirik yang tidak pantas dan penyanyinya wajib sopan, menutup aurat dan tidak bergoyang dengan goyangan yang tidak pantas.

Miris memang, tidak sedikit wali nikah yang mengundang para ulama untuk menghadiri akad nikah agar memperoleh berkah. Tapi sayangnya, setelah para kiai pulang, para biduan wanita leluasa bergoyang! Astaghfirullah!

Wallahu A’lam.

Foto : Unsplash

[1]An-Nawawi, Shahih Muslim Bi syarh An-Nawawi, Muassasah Qurthibah, Mesir: 1414 H, Cetakan Kedua, Juz 9, Hal. 330-331.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *