Kabar Terbaru

Curang, Kata Yang Paling Tidak Enak Didengar!

Berikut arti curang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

  • Curang/cu-rang = tidak jujur, tidak lurus hati, tidak adil. Orang munafik senantiasa berhati curang.
  • Mencurangi/men-curangi = berbuat curang kepada seseorang, menipu, mengakali.
  • Kecurangan/ke-cu-rang-an = perihal curang, perbuatan yang curang, ketidakjujuran, keculasan.
Jika melihat makna curang diatas, maka orang yang curang adalah: orang yang tidak jujur, tidak adil, tidak lurus hati, munafik, penipu, orang yang membodohi orang lain dan culas. Tidak ada sedikitpun kebaikan apalagi keindahan pada pelaku kecurangan.

Secara naluri, kecurangan tidak bisa diterima oleh orang baik. Jangankan dalam hal besar dan penting, kecurangan juga tidak bisa diterima dalam permainan “petak umpet.” Kita tentu masih ingat bagaimana makian dan umpatan kawan-kawan kecil kita apabila ada pemain yang berbuat curang.

Kecurangan dapat menimbulkan kegaduhan, permusuhan, pertengkaran dan perpecahan yang belum tentu mudah untuk meredamnya.

Jika kecurangan pada permainan petak umpet saja menimbulkan pertengkaran antar sesama pemain, apalagi pada hal-hal yang lebih besar dan serius! Lebih memuakkan lagi apabila kecurangan dilakukan terang-terangan dan kita tidak bisa berbuat apa-apa!

Ingat, kecurangan yang dilindungi oleh pihak tertentu akan terus menular dan terwariskan berulang-ulang dari generasi ke generasi. Ini sangat berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.

Perbuatan curang sangat hina di mata siapa saja, terutama di mata Allah. Pelaku kecurangan mendapat ancaman serius dari Allah SWT. Perhatikan Q.S. Al-Muthaffifin ayat 1-3 berikut:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ﴿١﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ﴿٢﴾ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ﴿٣﴾

(1). “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!”
(2). “(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan.”
 (3). Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.”
Jika Allah SWT mengatakan “celaka” kepada para pelaku kecurangan, maka sudah dipastikan mereka tidak akan selamat dunia akhirat! Kecurangan termasuk salah satu bentuk kezaliman. Pelaku zalim sudah pasti celaka di mana saja. Bisa celaka di jalan, di rumah, di mobil, di alam kubur dan tentunya di neraka.

Pelaku kecurangan tidak akan pernah mendapat pujian dari siapa saja kecuali dari sesama pelaku, pendukung kecurangan dan para pelindung kecurangan. Ya, ini namanya lingkaran setan!

Apakah ada orang tua yang bangga jika anaknya menang  “main gundu” dengan cara yang curang? Jika ada, maka sudah dipastikan sang orang tua mengalami gangguan jiwa dan layak dibawa ke RSJ untuk segera ditangani.

Penulis tidak mau mengutip ayat Al-Qur’an atau hadis terlalu banyak mengenai kecurangan dalam tulisan ini. Semoga satu hadis berikut bisa menjadi bahan renungan dan dapat menjauhkan kita dari sikap curang dan culas:

عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Dari Abu Wa`il dari Abdullah RA dari Nabi SAW beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari).

Ringkasnya, bukan cuma pemain petak umpet saja yang tidak boleh curang agar permainan menjadi menyenangkan. Curang tidak boleh dilakukan oleh siapa saja. Wasit, pelajar, mahasiswa, santri, guru, dosen, Pak RT, kiai, ulama, dokter, polisi, tentara, hakim, pengacara, jaksa, Pak Lurah, Pak Camat, Pak Gubernur, ASN, Anggota Dewan, menteri, Presiden, Tim Sukses dan siapapun tidak boleh curang!

Jangan pernah mentolerir kecurangan sedikitpun demi menjaga marwah, kejujuran dan kestabilan serta keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wallahu A’lam.
Foto : Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *