Kabar Terbaru

Ceria di Hari Raya

Id atau Hari Raya merupakan hari besar. Yang namanya hari raya, tentu harus ada suka cita dan tidak boleh bersedih. Di hari Id tidak boleh ada yang kelaparan dan meminta minta. Di sinilah hikmah adanya syariat zakat fitrah, mensejahterakan fakir miskin sebagaimana hadis Nabi SAW:

أَغْنُوهُمْ عَنْ طَوَافِ هَذَا الْيَوْمِ

Sejahterakanlah mereka (agar) tidak berkeliling (meminta-minta) pada hari ini. (HR. Al-Baihaqi melalui jalur Abdullah Ibn Umar RA).

Seluruh kaum muslimin tanpa kecuali harus bersuka cita di hari Raya. Alhamdulillah, para pekerja di Indonesia mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR). Pemberian tunjangan ini merupakan salah satu bentuk usaha yang dilakukan oleh para pengusaha agar para karyawan dapat bersuka cita di hari raya. Jika para pengusaha biasa memberikan THR, kita pun juga bisa menciptakan kebahagiaan dan suka cita dengan cara memberikan “uang lebaran” kepada anak-anak di sekitar kita seperti tradisi yang sudah berjalan selama ini. Atau juga bisa memberikan hadiah atau parsel kepada orang-orang yang kita cinta. Menciptakan kebahagiaan dan suka cita di hari fitri tentu berpahala dan sangat terpuji.

Ada juga tradisi yang sampai saat ini masih ada di Indonesia mengenai keceriaan di hari raya, apa itu? Menghidangkan ketupat, kue lebaran dan baju baru. Luar biasa Indonesia kita. Silakan saja membuat suasana ceria dan suka cita di hari raya selama tidak menyalahi syariat Islam. Satu poin lagi untuk menguatkan, bahwa di hari raya kita diharamkan berpuasa. Apa hikmahnya? Karena di hari raya tidak boleh seorang pun lapar! Semua harus bersuka cita, siapa saja, besar atau kecil dan kaya atau miskin. Begitu juga dengan saling berkunjung alias silaturahim kepada kerabat dan handai taulan. Itu semua termasuk bersuka cita.

Apakah keceriaan di hari raya ada contoh dari nabi SAW? Jawabannya jelas ada. Simak hadis berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

Dari ‘Aisyah berkata, “Abu Bakar masuk menemui aku saat itu di sisiku ada dua orang budak tetangga Kaum Anshar yang sedang bersenandung, yang mengingatkan kepada peristiwa pembantaian kaum Anshar pada perang Bu’ats.” ‘Aisyah menlanjutkan kisahnya, “Kedua sahaya tersebut tidaklah begitu pandai dalam bersenandung. Maka Abu Bakar pun berkata, “Seruling-seruling setan (kalian perdengarkan) di kediaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” Peristiwa itu terjadi pada Hari Raya ‘Ied. Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sekarang ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari no. 899).

Hadis di atas menggambarkan bahwa keceriaan nampak di rumah Rasulullah SAW di Hari Raya. Aisyah Ummul Mu’minin RA menyaksikan dua sahaya perempuannya sedang bersenandung nasyid-nasyid syi’ir peperangan yang membangkitkan jiwa. Nasyid yang mereka dendangkan merupakan nostalgia hari Bu’ats, yaitu tradisi yang berlaku untuk Kaum Aus dan Khazraj di Madinah semasa jahiliah. Bahkan melalui riwayat hadis lainnya, mereka bersenandung dan berdendang menggunakan duf (semacam rebana).

Di saat keceriaan itulah Sayyiduna Abu Bakar RA datang berkunjung ke rumah Rasulullah. Karena merasa janggal, Abu Bakar RA sempat menampakkan kekecewaannya kepada Aisyah RA dengan mengatakan : “Mengapa seruling-seruling setan sampai ada di rumah Rasululah ? Menurut para ulama, Abu Bakar menganggap bahwa berdendang, bernyanyi dan bermusik tidak layak didengar di majlis orang-orang salih, terutama di rumah oang paling salih, rumah Rasulullah SAW. Musik, dendang dan nyanyian biasanya ada di tempat-tempat hiburan yang terkadang membuat orang terlena dan lupa kepada Allah.

Tapi apa jawab Nabi SAW ? “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan sekarang ini adalah hari raya kita.”

Jawaban dari Rasulullah tersebut bisa kita pahami bahwa :

  • Di Hari Raya itu harus tampak semarak, keceraiaan dan kegembiraan. Berdendang dan bersenandung bahkan menggunakan alat musik diperbolehkan. Dufuf termasuk alat musik.
  • Kebolehan tersebut sudah pasti yang tidak melanggar syariat. Lirik-lirik syi’ir yang didendangkan dua sahaya dalam hadis di atas adalah bait-bait yang membangkitkan patriotism kaum Aus dan Khazraj. Artinya, jika lirik-lirik yang bertentangan dengan syariat seperti lirik-likrik yang membangkitkan fantasi dan hawa nafsu, mengandung kesyirikan, angan-angan kosong dan hal-hal negatif lainnya, tentu tidak diperkenankan oleh Rasulullah.
  • Menurut sebagian ulama, berdendang dan bermusik dengan tujuan menghibur sesaat hukumnya boleh, terutama di Hari Raya. Walimah dan Khitan. Ingat, kebolehan tersebut harus betul-betul memperhatikan adab dan syara’ sebagaimana poin nomor 3.
  • Abu bakar RA berkunjung dan bersilaturahim ke rumah Rasulullah pada Hari Raya. Melalui hadis ini, berkunjung ke rumah orang yang kita sayangi, seperti keluarga, kerabat, kawan dan juga orang yang kita hormati seperti para ulama tentu sangat dianjurkan.

Selamat Idul Fitri 1445 H.

Wallahu A’lam.

Foto : Freepik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *