Kabar Terbaru

Berjualan Setelah Suami Meninggal

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Maaf, Pak Ustaz. Saya seorang janda cerai mati. Almarhum suami saya wafat kira-kira dua minggu lalu. Saya memiliki dua anak usia sekolah SD dan SMP.

Sampai saat ini saya masih sangat berduka atas wafatnya suami saya. Kedukaan saya bertambah manakala uang simpanan dari almarhum suami sudah semakin menipis. Saya hanya ibu rumah tangga yang memang tidak memiliki sedikitpun penghasilan.

Karena kehidupan kami harus terus berjalan, terutama untuk makan dan biaya sekolah anak-anak, maka saya berencana untuk berjualan nasi uduk di pagi hari lalu siang sampai sore saya berkeliling jualan kue kering.

Rencana itu saya kemukakan kepada kawan dekat saya via Whatsapp. Tapi kawan saya mengatakan bahwa seorang janda karena suaminya meninggal tidak boleh keluar rumah selama berbulan-bulan. Artinya, saya tidak boleh berjualan apapun, apalagi jualan keliling. Ketika saya bertanya lebih lanjut, teman saya tidak mampu menjawabnya dengan baik. Ia hanya tahu hal itu dari mulut ke mulut, bukan melalui jalur akademik.

Jika hal ini benar, maka kedukaan saya semakin bertambah. Memang saya akui, pengetahuan agama saya tidak terlalu baik. Oleh karena itu saya mohon agar Pak Ustaz berkenan menjawab pertanyaan saya sebagai berikut:

Apakah perkataan teman saya benar bahwa Islam melarang seorang janda cerai mati untuk keluar rumah?

Jika memang benar, berapa lama saya harus mengurung diri di rumah?

Bagaimana solusi terbaiknya, karena di satu sisi saya tidak boleh keluar sedangkan saya sekarang menjadi tulang punggung keluarga?

Demikian, Pak Ustaz. Mohon maaf jika pertanyaan saya terlalu panjang.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Sebelumnya kami turut berduka cita atas wafatnya suami Ibu. Kami berdoa semoga Almarhum diampuni segala dosa-dosanya dan Ibu beserta anak-anak dikuatkan kesabaran oleh Allah SWT, aamiin.

Sebelum menjawab pertanyaan Ibu, maka kami menyampaikan beberapa poin mengenai wanita yang ditinggal mati suaminya, sebagai berikut:

A. Menjalani masa idah cerai mati selama empat bulan sepuluh hari jika tidak hamil. Adapun masa idah wanita hamil adalah sampai melahirkan.

Dalam masa idah tersebut, yang bersangkutan tidak boleh menikah dan menerima lamaran. Lama masa idah sebagaimana Q.S. Al-Baqarah: 234, sebagai berikut:

وَٱلَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَٰجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِىٓ أَنفُسِهِنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah sampai (akhir) idah mereka, maka tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini turun dengan tujuan menghapus tradisi sosial pra Islam dimana bangsa Arab waktu itu memberlakukan adat untuk seorang wanita yang ditinggal mati suaminya untuk berkabung selama setahun penuh.

Selama setahun penuh, wanita tersebut tidak boleh memakai perhiasan, tidak boleh makan makanan yang enak dan tidak boleh pula memperlihatkan diri di muka umum. Bahkan pada sebagian kelompok masyarakat kaum wanita yang menjalani masa berkabung ini harus melakukan hal-hal yang jauh lebih berat dari apa yang dilakukan oleh orang di masa jahiliyah, seperti: terus menerus menangis dan meratap. Tidak boleh menghias dirinya dan lain sebagainya. Melakukan masa berkabung ini bukan karena kematian suaminya saja, tetapi karena kematian anak pun mereka berkabung secara demikian.

Hikmah lamanya masa idah diantaranya adalah :
  • Mengetahui kebersihan rahimnya (hamil atau tidak hamil).
  • Digunakan sebagai masa berkabung. Manakala ia tidak hamil maka ia wajib berkabung menghormati tali hubungan suami istri baik terhadap mendiang suami maupun terhadap keluarga suaminya.
  • Lama masa idah 4 bulan 10 hari dianggap wajar untuk berkabung dan menghormati keluarga suami agar istri yang ditinggal mati tersebut tidak langsung menikah dengan orang lain. Hal ini berbeda dengan tradisi jahiliyah pra Islam Dimana istri yang ditinggal mati oleh suaminya harus berkabung selama setahun dan diasingkan.
BBer-ihdad Selama Masa Idah.

Selama menjalani masa idah selama 4 (empat) bulan 10 hari, seorang istri yang ditinggal mati suaminya juga harus ber-ihdad.

Ihdad dalam konteks cerai mati adalah :

الإحداد وهو) لغة مأخوذ من الحد وهو المنع وهو شرعاً (الامتناع من الزينة) بترك لبس مصبوغ يقصد به الزينة كثوب أصفر أو أحمر، ويباح غير المصبوغ من قطن وصوف وكتان وإبريسم ومصبوغ لا يقصد لزينة.

(و) الامتناع من (الطيب) أي من استعماله في بدن أو ثوب أو طعام أو كحل غير محرم أما المحرم كالاكتحال بالإثمد الذي لا طيب فيه، فحرام إلا لحاجة كرمد فيرخص فيه للمحدة.

“Mencegah diri dari berhias dengan tidak memakai pakaian yang diwarna dengan warna yang ditujukan untuk berhias seperti pakaian yang berwarna kuning atau merah. Hukumnya mubah memakai pakaian yang tidak berwarna dari bahan kapas, bulu, katun, sutra ulat, dan pakaian berwarna yang tidak ditujukan untuk berhias.
“Dan mencegah diri dari wewangian, maksudnya menggunakan wewangian di badan, pakaian, makanan, atau celak yang tidak diharamkan. Adapun celak yang diharamkan seperti bercelak dengan itsmid yang tidak berbau wangi, maka hukumnya haram -ditinjau dari barangnya-. Kecuali karena ada hajat seperti sakit mata, maka diperkenankan menggunakannya bagi wanita yang sedang ‘iddah.” (Kitab Fath Al-Qarib Al-Mujib).

Disamping larangan di atas, ihdad juga tidak boleh keluar rumah kecuali karena ada hajat khusus sebagaimana diterangkan dalam ibarat berikut:

(و) يجب (على المتوفى عنها زوجها والمبتوتة ملازمة البيت) أي وهو المسكن الذي كانت فيه عند الفرقة إن لاق بها وليس لزوج ولا غيره إخراجها من مسكن فراقها، ولا لها خروج منه وإن رضي زوجها (إلا لحاجة) فيجوز لها الخروج كأن تخرج في النهار لشراء طعام أو كتان، وبيع غزل أو قطن أو نحو ذلك. ويجوز لها الخروج ليلاً إلى دار جارتها لغزل وحديث ونحوهما بشرط أن ترجع وتبيت في بيتها، ويجوز لها الخروج، أيضاً إذا خافت على نفسها أو ولدها وغير ذلك مما هو مذكور في المطولات.

“Bagi mu’taddah mutawaffa ‘anha zaujuha dan wanita yang tertalak ba’in wajib menetap di dalam rumah. Maksudnya rumah yang menjadi tempat terjadinya perpisahan antara dia dengan suaminya, jika rumah itu layak baginya.”
“Bagi suami dan yang lain tidak diperkenankan mengeluarkan wanita tersebut dari rumah tempat terjadinya perpisahan. Begitu juga bagi wanita tersebut tidak diperkenankan keluar dari sana walaupun sang suami rela.”
Kecuali karena ada hajat, maka bagi dia diperkenankan keluar rumah. Seperti ia keluar di siang hari karena untuk membeli makanan, kain katun, menjual tenunan atau kapas dan sesamanya.”

“Bagi wanita tersebut diperkenankan keluar malam ke rumah tetangga perempuannya karena untuk menenun, ngobrol dan sesamanya dengan syarat pulang dan bermalam di rumahnya sendiri.”

“Bagi dia juga diperkenankan keluar ketika khawatir pada dirinya, anaknya dan sesamanya, yaitu permasalahan-permasalahan yang disebutkan di dalam kitab-kitab yang panjang penjelasannya.”


Dari keterangan diatas, kita memahami bahwa istri yang ditinggal mati suaminya harus menjalani masa idah 4 bulan 10 hari dan ber-ihdad dengan tidak keluar rumah dan berdandan. Adapun keluar rumah diperbolehkan jika ada hajat (keperluan) yang memaksa.

Dengan demikian, apakah ibu boleh keluar rumah untuk mencari nafkah? Pada prinsipnya boleh, namun diusahakan dulu untuk tidak melakukan hal tersebut. Sebagai pertimbangan ibu bisa mengusahakan hal-hal berikut:

  • Jika kebutuhan ibu dan anak-anak selama masa idah 4 bulan 10 hari ada yang menanggung, misalnya dari keluarga almarhum suami, atau dari keluarga ibu sendiri (wali) atau dari pihak lain yang berempati kepada ibu agar bisa ber-ihdad, maka ibu wajib ber-ihdad. Jika tidak ada dan ibu harus mencari nafkah mandiri, maka ibu diperbolehkan keluar rumah sekedar untuk mencari nafkah.
  • Walaupun dibolehkan untuk keluar rumah untuk mencari nafkah, ibu tetap wajib untuk tidak berpakaian mencolok, memakai wewangian kecuali seperlunya saja untuk menghindari bau badan. Dan tentunya wajib menjaga sikap yang menunjukan bahwa ibu menjaga kehormatan diri dengan tidak bertingkah laku yang mengundang syahwat lain jenis.

Dari kasus ibu ini, menjadi pelajaran untuk kita bersama bahwa istri yang ditinggal mati suaminya haruslah menjadi perhatian khusus , terutama bagi keluarganya (wali) atau keluarga suaminya. Bantulah semaksimal mungkin agar bisa ber-ihdad secara maksimal. Membantu memenuhi kebutuhan selama 4 bulan sepuluh hari memang membutuhkan banyak biaya, namun hal itu bisa teratasi dengan kerja sama yang baik semua pihak.

Jika masa idah 4 bulan 10 hari telah berakhir, maka ibu diperbolehkan memilih untuk tetap menjanda atau menikah lagi. Untuk hal ini ibu bisa mempertimbangkan mana yang sekiranya lebih baik dan maslahat untuk ibu dan keluarga.

Demikian dan semoga bermanfaat.

Wallahu A’lam.
Foto : Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *